Hari itu,23 Agustus 2007,jam menunjukkan pukul 00.00 waktu Malaysia,ketika Donald Luther Kolopita,Ketua Dewan Wasit Karate Indonesia, berjalan menuju hotelnya setelah menghadiri pertemuan wasit karate se-Asia yang bersamaan dengan diselenggarakannya Kejuaraan Karate se-Asia.Udara yang dingin membuat Donald mempercepat langkahnya.Mendadak,Donald mendadapat serangan dari belakang yang dilakukan oleh 4 orang.Belakangan diketahui 4 orang tersebut adalah anggota kepolisian Diraja Malaysia.Pengeroyokan itu membuat Donald memperoleh luka yang cukup serius,seperti ditulis Firman dalam blognya,muka bengkak,bibir pecah,tulang rusuk kanan patah,biji zakar mengeluarkan darah dan sejumlah luka-luka lain.Maklum saja pengeroyokan anggota polisi itu dilakukan dalam kondisi tangan Donald di borgol.Karena insiden itu,Indonesia akhirnya mengundurkan diri dari kejuaraan itu.
Setahun berselang,Jumat 29 Agustus 2008,Stadion Utama Gelora Bung Karno,riuh rendah dengan sorak sorai penonton.Hari itu dilangsungkan pertandingan final sepakbola Piala kemerdekaan dalam rangka HUT RI ke 63 antara kesebalasan Indonesia melawan kesebelasan Malaysia.Ketika pertandingan memasuki jeda dan kesebelasan Indoensia dalam posisi tertinggal 1-0,mendadak terjadi insiden yang memalukan.Kompas edisi 30 Agustus 2008 menulis,saat para ofisial dan para pemain hendak memasuki kamar ganti,sejumlah ofisial team Indonesia termasuk Manajer Indonesia Andi Darusalam terlibat perdebatan dengan ofisial Libya.Perdebatan memanas sampai kemudian salah seorang ofisial Indonesia melakukan pemukulan terhadap pelatih team Libya,Gamal AM Abu Nowara.Akibatnya Gamal AM Abu Nowara mengalami pecah bibir dan pecah kacamata.Kesebelasan Libya pun pada akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan permainan.
Dua peristiwa diatas mempunyai konteks yang sama,dimana ketika sebagai tuan rumah penyelenggara sebuah kejuaraan tidak bisa berlaku ramah terhadap tamu.Yang membedakan adalah insiden pemukulan di Malaysia dilakukan oleh anggota kepolisian yang bukan merupakan satu kesatuan dari panitya penyelanggara.Kalau kedua insiden pemukulan itu dibuatkan sebuah skala tercela,maka insiden di Indonesia jauh lebih tercela.Pemukulan pelatih Libya justru dilakukan oleh ofisial team Indonesia yang notabene adalah bagian dari PSSI yang menjadi penyelenggara kejuaraan tersebut.
Kita masih ingat akibat dari insiden pemukulan wasit Indonesia di Malaysia itu.Perasaan marah dan jengkel berbaur akibat perlakuan itu.Kedubes Malaysia di demo.Bahkan terdengar kembali slogan lama "Ganyang Malaysia" yang pernah dikampanyekan Bung Karno di masa Orde Lama.Diplomasi tingkat tinggi dikerahkan,sampai kemudian PM Abdulah Badawi pun meminta maaf kepada pemerintah Indonesia.Sayangnya,kita merasa terusik kalau kita diganggu,sementara kita tidak merasa terganggu ketika mengusik pihak lain.Sebuah standar ganda dalam perbutan.Di satu sisi kita merasa dirugikan ketika menjadi korban,tetapi di sisi lain kita pun bertindak yang sama. Tentu bukan juga sebuah alasan pembenaran,bahwa memanasnya pertandingan membuat seseorang bisa bertindak di luar aturan.Zidane harus merelakan dirinya dicatat dalam lembaran hitam sejarah sebagai seniman bola yang menerima kartu merah di saat akhir ujung internasionalnya.Drogba pun menerima hal sama ketika gerakan lembutnya mencolek pipi Nemanja Vidic membuatnya dikeluarkan dari pertandingan final Liga Champions 2008.Artinya provokasi dalam sebuah pertandingan hanya bisa dihadapi mereka yang mempunyai kematangan emosi.Konon,dalam pertandingan itu justru dari pemain Indonesialah yang sering bertindak provokatif dengan bermain kasar yang sayangnya tidak mendapat perhatian dari wasit. Akhirnya,Indonesia memang menjadi juara setelah kesebelasan Libya menolak mengundurkan diri.Entahlah, apakah ditengah miskinnya prestasi kesebelasan Indonesia,menjadi juara karena "hadiah" dari kesebelasan Libya ssebuah hal yang membanggakan?Kompas edisi 31 Agustus 2008 melukiskan sebagai berikut :
Sebuah perayaan ditengah coreng noda dan amisnya perbuatan tercela.Karena miskin prestasi?Barangkali demikianlah adanya.
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Prev | Next > |
|---|
Author
Syndicate
Who's Online






![]() | Today | 173 |
![]() | Yesterday | 224 |
![]() | This week | 397 |
![]() | This month | 1418 |
![]() | All | 37796 |




Hari itu,23 Agustus 2007,jam menunjukkan pukul 00.00 waktu Malaysia,ketika Donald Luther Kolopita,Ketua Dewan Wasit Karate Indonesia, berjalan menuju hotelnya setelah menghadiri pertemuan wasit karate se-Asia yang bersamaan dengan diselenggarakannya Kejuaraan Karate se-Asia.Udara yang dingin membuat Donald mempercepat langkahnya.Mendadak,Donald mendadapat serangan dari belakang yang dilakukan oleh 4 orang.Belakangan diketahui 4 orang tersebut adalah anggota kepolisian Diraja Malaysia.Pengeroyokan itu membuat Donald memperoleh luka yang cukup serius,seperti ditulis 







