Mon
27
Oct
2008
Sepakbola yang telah berubah menjadi instrumen bisnis memang seperti buah simalakama.Di satu sisi sentuhan bisnis dalam sepakbola menjadikannya sebagai sebuah permainan yang atraktif dan menghibur.Bisnis dalam sepakbola juga menjadikan para pemain bola profesional di Eropa sana menikmati kehidupan makmur.Sentuhan bisnis juga yang mampu membuat klub papan atas di Liga Inggris bergelimang dengan uang.Namun sentuhan bisnis pula yang membuat pejabat FIFA dan UEFA menjadi khawatir bahwa jalur pembinaan sepakbola di Inggris tak lagi berada di jalur yang benar.Apalagi pasca kegagalan Wayne Rooney dkk di Piala Eropa lalu,kekhawatiran itu seolah menemukan buktinya.
Jalur pembinaan pemain dirusak oleh kepentingan sebuah bisnis sepakbola.Sebuah hukum tak tertulis berlaku bahwa klub-klub medioker dan klub-klub kecil adalah penyedia pemain berbakat yang sewaktu-waktu mesti merelakan pemainnya direkrut klub-klub besar.Tentu saja imbalan sejumlah uanglah yang membuat kerelaan itu muncul.Uang dari penjualan pemain itulah yang dipergunakan untuk menggerakkan perjalanan klub dan membeli pemain baru dengan harga lebih murah.Tak heran penghuni papan atas Liga Inggris selalu tak beranjak dari klub-klub yang dijuluki "The big four",Manchester United,Arsenal,Chelsea dan Liverpool.
Adalah Tottenham Hotspur yang tadinya diharapkan mampu menggangu kemapanan klub-klub papan atas tadi.Namun para petinggi Spurs tak mampu melewati godaan iming-iming sejumlah uang dari klub-klub papan atas.Para petinggi Spurs memilih jalan pintas ketimbang mempertahankan sebuah prestasi yang pada ujungnya juga akan mendatangkan penghasilan.Manchester United adalah salah satu contohnya.Para pengelolanya begitu sabar membina klub hingga meraih prestasi.Kalau kemudian Manchester United muncul sebagai klub kaya,maka kekayaan itu muncul seiring dengan prestasi yang diraihnya. Tak banyak pelatih yang mempunyai otoritas penuh seperti Sir Alex Ferguson .Sir Alex Ferguson begitu gigih mempertahankan Cristiano Ronaldo dari godaan Real Madrid,meski Madrid menawarkan sejumlah uang kompensasi yang tidak sedikit.Namun tidak demikian halnya dengan para pelatih klub-klub medioker.Martin Jol pelatih Tottenham Hotspur di musim kompetisi 2005/2006 tak mampu memaksa manajemen klub untuk menahan Michael Carrick ketika Manchester United menawarkan uang transfer 17 ribu poundsterling.Michael Carrick yang di Manchester United berposisi pemain jangkar adalah dirigen permainan dalam skema permainan Martin Jol. Penjualan pemain secara tidak langsung merusak harmonisasi sebuah permainan yang telah terbangun,apalagi ketika klub tidak juga berkehendak mencari pemain yang berkemampuan sepadan dan cenderung mencari pemain pengganti seadanya demi penghematan.Sekalipun pemain pengganti yang didatangkan adalah pemain yang mahal,namun proses adaptasi pemain terhadap skema permainan yang dikembangkan klub dan atmosfir liga Inggris yang cepat dan bertenaga adalah sebuah hal yang tak bisa diganti dengan uang. Maka demikianlah apa yang terjadi dengan pemecatan Juande Ramos ,pelatih Tottenham Hotspur yang baru- baru ini.Sesungguhnya Juande Ramos datang ke dataran Inggris bukan membawa pepesan kosong.Juande Ramos adalah pelatih yang mampu membawa Sevilla juara dua kali Piala UEFA.Pretasi Juande Ramos di Tottenham Hotspur sebenarnya tidaklah terlalu jelek.Meski hanya finish di urutan 11 klasemen akhir Liga Inggris 2007/2008,namun Spurs mampu meraih Piala Carling,sebuah hal baru dalam tonggak perjalanan Spurs dalam satu dasawarsa. Ramos mulai terlihat limbung ,ketika di awal musim klub-klub besar tak bosan-bosan menggoda para pemainnya.Komentarnya di suratkabar perihal pendekatan Liverpool dan Manchester United menyiratkan hal itu.Setelah Robie Keane dijual ke Liverpool,tak lama kemudian manajemen klub pun melego Dimitar Berbatov ke Manchester United.Juande Ramos mulai kehilangan akal .Belaanja pemain yang cukup besar dengan merekrut Giovani Dos Santos,Luca Modric dan Roman Palyuchenko.Mahalnya harga pemain tak menjamin mereka mampu beradaptasi dan menyatu dalam klub.Kesatuan team menjadi rusak seiring perginya beberapa pemain.Alhasil Tottenham Hotspur lebih sering menderita kekalahan bahkan dari klub yang baru promosi ke Liga Primer. Akhirnya sebuah karier yang telah dibangun selama ini pupus di tengah jalan.Nama besar Ramos menjadi nama yang tidak lagi dihormati.Setelah manajemen klub memutuskan mengakhiri kontrak Ramos,Ramos berujar,"Saya dikhianati pemain".Sebenarnya lebih dari itu, Juande Ramos menjadi korban tuntutan publik yang haus akan kemenangan,sementara pondasi yang dia bangun justru dirusak pemilik rumah itu sendiri.
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Prev | Next > |
|---|
Author
belum sempat kutebus cahaya, redup itu belah dari cermin.berderai menjadi lanskap malang.gurun pasir-pasir tersangai.matahari tua ke arah barat. bergelimun tanpa bayang-bayang.“aku akan pulang!" kudengar suaramu perih seperti letusan tengah malam.tapi yang kugambar kemudian, adalah sebuah kereta yang tak lagi pernah kembali.aku tak ingin melukis wajahmu yang termangu di jendelanya.pohon-pohon tertinggal.karib desah desau sunyi.rambutmu memang belum selesai kuhitung.baru sebahu gerai. atau sebatas malam terlanjur cepat.tapi langit-langitku terperangkap cermin pecah, dan seekor kunang-kunang menyiang sepi sendiri.ke sana, ke negeri yang bergelombang, “aku akan pulang!" katamu tak tertegah.tiba-tiba kubayangkan sebuah perang yang angkuh telah menunggumu.(kutipan sajak Iyut Fitra dalam "Kunang-kunang dan gambar sebuah kereta")
Syndicate
Who's Online






![]() | Today | 101 |
![]() | Yesterday | 224 |
![]() | This week | 325 |
![]() | This month | 1346 |
![]() | All | 37725 |




Sepakbola yang telah berubah menjadi instrumen bisnis memang seperti buah simalakama.Di satu sisi sentuhan bisnis dalam sepakbola menjadikannya sebagai sebuah permainan yang atraktif dan menghibur.Bisnis dalam sepakbola juga menjadikan para pemain bola profesional di Eropa sana menikmati kehidupan makmur.Sentuhan bisnis juga yang mampu membuat klub papan atas di Liga Inggris bergelimang dengan uang.Namun sentuhan bisnis pula yang membuat pejabat FIFA dan UEFA menjadi khawatir bahwa jalur pembinaan sepakbola di Inggris tak lagi berada di jalur yang benar.Apalagi pasca kegagalan 







