Barangkali Jumat kemarin adalah hari paling hiruk pikuk di Jakarta.Setidaknya bagi saya yang telah menjadi bagian dari masyarakat komuter yang dengan setia menempuh perjalanan Jakarta Tangerang setiap harinya.Hujan telah mengguyur Jakarta sejak Kamis malam.Dan di pagi yang semestinya lebih nyaman untuk tetap berada di bawah selimut tebal,saya justru memaksakan diri untuk berangkat kerja.Entah karena dilandasi semangat tanggung jawab atau entah karena keisengan semata,tumben-tumbenan pagi itu saya bersemangat berangkat kerja.Yang jelas begitu memasuki jalan raya Daan Mogot justru hujan semakin membesar.
Benar saja,sesampainya di kantor cuma segelintir karyawan yang masuk.Karyawan kantor yang pada dasarnya memang sedikit,semakin bertambah sedikit di saat hujan deras begini.Semakin siang hujan bukannya berhenti,malah bertambah deras.Di Yahoo Mesenger kabar berseliweran tidak karuan.Ada yang memberitahukan jalan-jalan yang sudah terendam banjir.Ada yang memberitahukan akan adanya pemadaman listrik dari PLN dalam jangka waktu yang cukup lama.Karyawan mulai resah,banyak yang mulai ketakutan tidak bisa pulang.Jam belum juga menunjukkan pukul 15.00 wib,para karyawan sudah berkemas-kemas pulang .Sayangnya karyawan yang ketakutan itu tidak termasuk saya.Saya masih saja asyik di depan komputer menyelesaikan pekerjaan sembari sesekali menjawab pesan-pesan dari teman-teman di Yahoo Mesenger."Bukan sekali ini saja Jakarta banjir",batin saya.
Ternyata dugaan saya salah besar.Perjalanan baru beranjak 500 m dari kantor,saya sudah dihadang genangan air.Genangan yang cukup dalam dengan menyisakan sedikit bagian dangkal di sisinya.Sebenarnya pada bagian dangkal tersebut masih relatif aman untuk dilewati pengendara motor seperti saya ini.Sayangnya bagian dangkal tersebut justru banyak ditempati orang-orang yang menawarkan jasa penyeberangan.Beberapa diantaranya malah diringi dengan umpatan-umpatan dan hardikan-hardikan kasar.Eloknya manusia yang ditempa kerasnya hidup di Jakarta,begitu jeli menciptakan peluang.Apalagi di tengah suasana hiruk pikuk ini.
Lolos hadangan genangan pertama,ternyata masih banyak titik genangan air yang menghadang.Tempat-tempat yang sebelumnya saya perkirakan masih bisa dilewati sepeda motor ternyata juga tergenang air.Tidak ada informasi akurat,jalan mana yang bisa dilewati dan jalanan mana yang tidak bisa dilewati.Akhirnya yang ada hanyalah sekedar perkiraan-perkiraan dan informasi dari yang bertebaran di jalan yang belum tentu akurat.Rupanya banyak yang bernasib seperti saya.Tidak tahu pasti jalan mana yang bisa dilewati.Akhirnya yang ada hanyalah keruwetan yang tak berujung.Di beberapa tempat malah kendaraan hampir tak bisa bergerak.Kemacetan panjang dan wajah-wajah letih mengiringi.Barisan pengendara motor yang mogok bertambah banyak.Saya hanya berharap motor tua saya tidak ngadat di tengah terpaan genangan air.
Perjuangan saya berakhir,ketika mengetahui jalan Ring Road Cengkareng terendam air setinggi pinggang orang dewasa.Tak ada lagi jalan ke Tangerang.Jalur Jakarta - Tangerang putus.Tinggal satu jalur yang kemungkinan aman dari genangan air,meskipun saya tak yakin sepenuhnya,jalan tol.Ya....saya mesti lewat tol.Segera saya memutar motor saya.Dengan tersendat-sendat sampai juga ke pintu tol.Sedikit was-was tentunya,jangan-jangan motor tidak diperbolehkan masuk tol.Tapi apa boleh buat,tidak ada jalan lain menuju Tangerang.Saya memacu motor agak kepinggir.Jalan tol juga padat kendaraan.Apalagi menjelang pintu tol juga ada genangan air.
Saya agak ragu untuk mneyebrangi gennagan air.namun bagaimanapun juga saya tidak mungkin mundur.Saya terjepit diantara kendaraan-kendaraan besar.Tidak ada ruang untuk berbalik arah,apalagi di jalan tol.Dengan membaca bismilah saya nekat menyeberangi genangan air.Agak terbatukl-batuk motor tua saya melaju.apalagi diobarengi dengan terpaan air dari kendaraan di sekeliling.Saya jadi teringat aktor Klaus Kinski dalam "Vampire in Venice".Kalau Klaus Kinski menyeberangi air diantara eksotika gedung-gedung di Venesia,maka saya justru menyeberangi air diantara dentuman knalpot truk-truk gandeng.Kalau Klaus Kinski mneyeringai diatas perahu dengan wajah optimistis,maka saya justru menyeringai di atas motor tua saya dengan kedinginan dan keletihan yang tak terkatakan.Saya mencoba tersenyum optimis seperti Kinski.Oalah...demi sesuap nasi...demi sepotong rezeki.....Jakarta tunggulah saya tetap akan datang.Tak akan mundur oleh banjir,karena tak ada jalan lagi untuk mundur.......
belum sempat kutebus cahaya, redup itu belah dari cermin.berderai menjadi lanskap malang.gurun pasir-pasir tersangai.matahari tua ke arah barat. bergelimun tanpa bayang-bayang.“aku akan pulang!" kudengar suaramu perih seperti letusan tengah malam.tapi yang kugambar kemudian, adalah sebuah kereta yang tak lagi pernah kembali.aku tak ingin melukis wajahmu yang termangu di jendelanya.pohon-pohon tertinggal.karib desah desau sunyi.rambutmu memang belum selesai kuhitung.baru sebahu gerai. atau sebatas malam terlanjur cepat.tapi langit-langitku terperangkap cermin pecah, dan seekor kunang-kunang menyiang sepi sendiri.ke sana, ke negeri yang bergelombang, “aku akan pulang!" katamu tak tertegah.tiba-tiba kubayangkan sebuah perang yang angkuh telah menunggumu.(kutipan sajak Iyut Fitra dalam "Kunang-kunang dan gambar sebuah kereta")