Enterteinment article thumbnail Budi Anduk......pria paling menghibur 2008.....
Monday, 29 December 2008 | Esha

Dalam dunia pewayangan,kita mengenal 4 tokoh punakawan yang terdiri dari Semar,Gareng,Petruk dan Bagong.Meski Semar adalah penjelmaan Batara Ismoyo yang dalam strata kayangan Jonggring Salaka...

Terbaru

Dari balik jendela..... article thumbnail Telanjang itu menggiurkan...........
Sunday, 10 February 2008 | Esha

Manusia diturunkan ke bumi dalam keadaan telanjang.Tentunya Tuhan tidak serta merta menurunkan manusia ke muka bumi dan langsung menguasai teknologi pembuatan pakaian.Seperti juga yang dialami...

Terpopuler

Dari balik jendela..... article thumbnail Mbah kakung dan aliran kesat.......
Saturday, 06 December 2008 | Esha

Memasuki akhir tahun,kondisi Mbah Kakung saya nampak segar bugar.Sebagai pemimpin nDalem Kartotinayan,tempat dimana Mbah Kakung memegang kekuasaan tertinggi,Mbah Kakung telah melaksanakan roda...

Dari balik jendela

Sekitar kita............. article thumbnail Kao Attack berhadiah.......masih saja ada yang tertipu.....
Thursday, 25 December 2008 | Esha

Di negara kita,tumbuh subur pemeo yang menyebutkan "mencari rejeki haram saja susah apalagi mencari yang halal".Dan dalam urusan mencari rejeki haram tadi di negara kita berkembang...

Sekitar Kita

 

Cari Kerja

Ramalan Cuaca

sumber: bmg.go.id
 

Hiburan

Budi Anduk......pria paling menghibur 2008.....
09:48
article thumbnail Dalam dunia pewayangan,kita mengenal 4 tokoh punakawan yang terdiri dari Semar,Gareng,Petruk dan...
Image Bukan sebab berlebihan mengagungkan kota kelahiran seperti Hitler yang membabi buta dengan semangat "Deustch ubber alles"-nya,namun selalu ada rindu berlebih ketika pulang kembali ke Yogya.Sudut kota yang hening,jalan-jalan yang tidak terlampau ramai ,lengang dan nuansa keakraban sebuah kota kecil.Menjelajahi Yogya adalah menguras memori yang merangsang syaraf-syaraf keirnduan sebuah masa dimana sebuah kota membesarkan seorang anak manusia.Maka setelah berdiam di Jakarta,momen pulang ke Yogya adalah membesarkan buih-buih kerinduan akan kota kelahiran.Bukankah hidup adalah dua sisi mata uang dimana kita akan selalu merindukan sebuah sisi dimana kita tidak berada di dalamnya?

Kalau kemudian momen lebaran dipilih sebagai waktu untuk pulang semata hanyalah karena aktivitas memang berhenti di saat lebaran.Libur yang lumayan panjang atau mungkin juga karena lembaran bergambar Pak Karno bertambah beberapa lembar di kala lebaran.Maka ketika beberapa hari lalu telepon genggam saya berdering,suara yang keluar adalah  sebuah mukjizat yang sebenarnya tak pernah saya minta,"Mas....Senin sore berangkat tender ke Semarang ya....naik Mandala jam 19.40....".Itu suara bariton bos saya.Sebuah perintah yang sebenarnya tidak terduga.Sudah seminggu saya beraktifitas di luar kantor,maka saya tidak terlalu tahu perkembangan terbaru di kantor.Saya perhitungkan proses tender akan memakan waktu sekitar 3 hari.Itu artinya saya tidak perlu lagi balik ke Jakarta lha wong Kamis kantor pasti sudah libur.Dan segala keruwetan orang soal tiket angkutan lebaran tak perlu lagi saya pusingkan.Kerja sekaligus mudik lebaran.

Ada saatnya untuk berhenti.Ketika keseharian dipacu untuk rutinitas kerja yang terkadang tidak bertoleransi dengan hari libur Ketika segala keruwetan dan hiruk pikuk di jalanan Jakarta sedemikian menguras tenaga bahkan ketika belum memulai aktifitas kerja di kantor, maka mudik lebaran adalah sarana mendinginkan "mesin" agar lebih fresh ketika kembali bekerja.Melepaskan segala kepenatan dan beban kerja yang terkadang melelahkan pikiran yang pada ujungnya bisa menimbulkan stres.Tak beda dengan puasa yang mengistirahatkan pencernaan yang konon bisa berfungsi sebagai detoks tubuh,demikian juga halnya mudik lebaran yang berfungsi sebagai detoks pikiran.


Maka mudik lebaran adalah sarana untuk bermalas-malasan bagi saya yang pada dasarnya memang malas.Pagi hari duduk di teras rumah dengan secangkir kopi dan lembaran koran "Kedaulatan rakyat" di tangan,saya merasakan kenikmatan luar biasa orang berlalu lalang didepan rumah saya."Ndherek langkung Mas",begitu sapaan orang-orang yang lewat di depan rumah.Dengan senyum lebar saya akan menjawab,"Monggo".Tak ada aturan tertulis,namun bertegur sapa sekalipun sekedar lewat didepan rumah adalah hal yang jamak dalam sebuah keakraban masyarakat.Tak ada lagi yang mesti dipikirkan.Tak juga pekerjaan yang dikejar tenggat waktu.Kalau Prof Dr Emil salim biasa menghentikan aktifitas pekerjaan di hari Minggu dengan istilah Revolusi berhenti di hari Minggu,maka cukuplah saya untuk menghentikan sejenak aktifitas pekerjaan di hari lebaran.Cukuplah untuk hari ini,di Yogya yang lengang revolusi itu berhenti untuk sejenak.
Comments
Add New RSS
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."



 
< Prev   Next >

Free Web Hosting with Website Builder

Nasional

Pemimpin Communicator........
20:58
article thumbnail Mbah Kakung saya mempunyai resep sendiri untuk calon pemimpin mendatang.Di Minggu yang terik,yang...

Kabar Dunia

Wajah sedap Barack Obama.......
09:38
article thumbnail Siapa yang masih percaya bahwa tampilan kecantikan dan ketampanan seseorang di hubungkan dengan...

Gambar Pilihan

abel1.jpg.jpg
  • abel1.jpg.jpg
  • loy.jpg.jpg
  • bibiabel.jpg.jpg
  • tetanggaabel.jpg.jpg
  • abelmakanmulu.jpg.jpg

Sponsor

Berlangganan

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Indonesia Joomla Topsites
Add to My Yahoo!
Add to Google
created by: Max
This is my Google PageRank™ - SmE Rank free service Powered by Scriptme

Author

tear-drop1.jpg
belum sempat kutebus cahaya, redup itu belah dari cermin.berderai menjadi lanskap malang.gurun pasir-pasir tersangai.matahari tua ke arah barat. bergelimun tanpa bayang-bayang.“aku akan pulang!" kudengar suaramu perih seperti letusan tengah malam.tapi yang kugambar kemudian, adalah sebuah kereta yang tak lagi pernah kembali.aku tak ingin melukis wajahmu yang termangu di jendelanya.pohon-pohon tertinggal.karib desah desau sunyi.rambutmu memang belum selesai kuhitung.baru sebahu gerai. atau sebatas malam terlanjur cepat.tapi langit-langitku terperangkap cermin pecah, dan seekor kunang-kunang menyiang sepi sendiri.ke sana, ke negeri yang bergelombang, “aku akan pulang!" katamu tak tertegah.tiba-tiba kubayangkan sebuah perang yang angkuh telah menunggumu.(kutipan sajak Iyut Fitra dalam "Kunang-kunang dan gambar sebuah kereta")

Syndicate

Who's Online

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday169
mod_vvisit_counterYesterday224
mod_vvisit_counterThis week393
mod_vvisit_counterThis month1414
mod_vvisit_counterAll37793