|
Enterteinment
Monday, 29 December 2008 | Esha Dalam dunia pewayangan,kita mengenal 4 tokoh punakawan yang terdiri dari Semar,Gareng,Petruk dan Bagong.Meski Semar adalah penjelmaan Batara Ismoyo yang dalam strata kayangan Jonggring Salaka... |
Terbaru
|
Dari balik jendela.....
Sunday, 10 February 2008 | Esha Manusia diturunkan ke bumi dalam keadaan telanjang.Tentunya Tuhan tidak serta merta menurunkan manusia ke muka bumi dan langsung menguasai teknologi pembuatan pakaian.Seperti juga yang dialami... |
Terpopuler
|
Dari balik jendela.....
Saturday, 06 December 2008 | Esha Memasuki akhir tahun,kondisi Mbah Kakung saya nampak segar bugar.Sebagai pemimpin nDalem Kartotinayan,tempat dimana Mbah Kakung memegang kekuasaan tertinggi,Mbah Kakung telah melaksanakan roda... |
Dari balik jendela
|
Sekitar kita.............
Thursday, 25 December 2008 | Esha Di negara kita,tumbuh subur pemeo yang menyebutkan "mencari rejeki haram saja susah apalagi mencari yang halal".Dan dalam urusan mencari rejeki haram tadi di negara kita berkembang... |
Sekitar Kita
Cari Kerja
Internet
Komputer & Internet
Ramalan Cuaca
sumber: bmg.go.id
Sepakbola
Roy Keane.....pertarungan itu telah berakhir....
05:29
Roy Keane dikenang orang sebagai sosok pemain bola yang temperamental.Sejarah takkan pernah...
05:29
Hiburan
Budi Anduk......pria paling menghibur 2008.....
09:48
Dalam dunia pewayangan,kita mengenal 4 tokoh punakawan yang terdiri dari Semar,Gareng,Petruk dan...
09:48
Mon
24
Nov
2008
Orang Jawa paling sering melakukan "othak-athik gathuk".Sebuah perkataan dihubung-hubungkan ,dan mungkin sedikit dipaksakan untuk cocok dengan sebuah keadaan.Misalnya untuk urusan hari,hari Selasa yang dalam bahasa jawa diucapkan "Seloso", diartikan dengan "sela-selane mongso".Kurang lebih berarti "sebuah saat dimana segalanya menjadi sepi atau longgar".Maka ada anekdot bahwa jangan memulai sesuatu hal pada hari Selasa,karena akan berakibat kurang baik.Hubunganya tentu saja pada makna hari Selasa yang "selo" atau sepi tadi.Tentu saja bagi mereka yang percaya.Selasa dalam kosmologi(istilahnya tepak nggak ya?) kebatinan Jawa setara dengan hari Jumat,apalagi kalau berbarengan dengan hari pasaran Jawa yaitu Kliwon.Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon adalah hari keramat.Tak heran kalau pada malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon di Parangkusumo sana,banyak orang yang laku kejawen datang untuk berziarah dan tirakatan.
Saya yang pada dasarnya percaya bahwa semua hari baik,terkadang mesti berkompromi dengan hal-hal kebetulan "othak-athik gathuk" tadi.Entah kenapa,Jalan Raya Daan Mogot yang biasanya macet di hari-hari lain,pada hari Selasa lalu lintas cukup lancar.Alhasil perjalanan dari Jakarta - Tangerang pada hari Selasa biasanya makan waktu lebih cepat dibandingkan hari biasa.Tidak setiap Selasa memang,namun terkadang terpikir juga bahwa "othak-athik gathuk" tadi menemukan kebenaran."Kok nyambung ya",demikian batin saya.Untung "othak-athik gathuk" tadi tidak pernah membawa saya dalam rutinitas melintasi Jalan Gatot Subroto.Sepengetahuan saya,Jalan Gatot Subroto memang tidak pernah lepas dari kemacetan terkecuali hari Minggu tentunya.
Masyarakat Jawa selalu penuh dengan simbol-simbol.Sebuah hal tidak dikatakan secara apa adanya.Sebuah perkataan terkadang mesti dicari makna di baliknya.Di sebuah daerah B,yang masuk wilayah Jawa Tengah,adalah daerah pemasok tukang gali untuk proyek-proyek kantor dimana saya bekerja.Namun jangan harap kita bisa memanggilnya dengan segera apabila itu bertepatan dengan hari Jumat.Konon bepergian jauh atau memulai pekerjaan di tempat jauh pada hari Jumat itu termasuk dalam kategori tidak baik.Padahal,akhirnya saya pakai juga ilmu "othak athik gathuk",aturan yang datang secara turun temurun tadi mungkin dimaksudkan agar orang tidak melewatkan sholat Jumat.Tentu saja kalau bepergian jauh di hari Jumat kemungkinan besar sholat Jumatnya pasti terlewatkan.
"Othak-athik gathuk" tadi juga menjelaskan mengapa dalam upacara penguburan jenazah selalu disertakan dengan rangkaian bunga,menyebar uang koin dan menyebar segenggam beras.Saya tidak tahu apakah di daerah lain juga demikian,yang jelas pada saat sekarang di daerah asal saya sana sudah jarang yang melakukannya.Waktu masih kanak-kanak secara khusus saya pernah menanyakan maksud upacara tadi."Mbah,mengapa dalam penguburan jenazah selalu disertakan rangkaian bunga,penyebaran uang logam dan penyebaran seganggam beras.Tentu saja saya menanyakan dalam bahasa Jawa kromo yang tidak mungkin saya tulis di sini."Maksudnya gini Nong...","Nong" adalah panggilan saya dalam keluarga karena kesukaan menirukan suara gamelan."Maksud rangkaian bunga itu adalah agar mereka yang hidup hanya mengingat hal-hal yang wangi atau baik dari si jenazah.Tidak menaruh dendam kepada orang yang sudah meninggal ataupun keluarga yang ditinggalkan.Penyebaran uang logam maksudnya sebagai lambang bahwa orang mati itu hanya membawa amal kebajikan.Dia tidak memerlukan lagi harta yang disimbolkan dengan uang logam dan segenggam beras",demikian Si Mbah itu menjelaskan.
Saya manggut-manggut."Benar juga", batin saya.Orang mati mana perlu dengan duit atau beras."Lho Mbah,kalau memang tidak memerlukan duit ,kenapa tidak uang 50-an ribu yang disebar?",tanya saya lagi."Oalah Nong,kalau uang 50-an ribu yang disebar,para pelayat nanti malah rebutan duit.Siapa yang mau mengangkat jenazah sampai ke kuburan".Lagi-lagi simbah benar dengan penjelasannya.
Namun "othak athik gathuk" tadi belum membuat saya faham mengapa di bulan-bulan ini,bulan yang dalam kalender penanggalan jawa disebut bulan "Besar",banyak orang melangsungkan pernikahan.Konon inilah bulan yang baik untuk melangsungkan pernikahan.Bulan baik,niat baik yang diharapkan menghasilkan sesuatu yang baik pula.Karena ada sebutan bulan baik,maka tentu ada juga sebutan bulan buruk.Bulan Muharram yang dalam penanggalan Jawa disebut bulan "Suro",konon dianggap buruk untuk sebuah hajatan pernikahan.Maka jarang ditemukan pernikahan di bulan Muharrom atau "Suro" iniDi bulan "Suro" pula biasanya jarang orang melakukan hajatan pernikahan.Demikian juga bulan Romadhon.Meski disebut sebagai bulan penuh berkah,jarang ditemukan orang menikah di bulan ini.Kira-kira ada nggak yang pernah menemukan kaum muslim mengadakan hajatan pernikahan di bulan Romadhon?
Alhasil,karena bulan baik ini pula sampai minggu lalu sudah ada 8 undangan pernikahan yang datang ke rumah.Maka sudah ada 3 minggu ini,kegiatan saya tiap akhir pekan adalah menghadiri undangan.Memasukkan selembar atau 2 lembar kertas rupiah ke dalam amplop dan sering-sering melebarkan senyum.Minggu depan masih tersisa 2 undangan yang belum saya hadiri,satu di Karawang dan satu lagi di dekat komplek dimana saya tinggal.Iseng-iseng saya menanyakan kepada seorang teman yang online di Yahoo Messenger.
"Kenapa di bulan-bulan ini banyak orang melakukan pernikahan......",tulis saya di kolom editor YM. "Karena sekarang musim hujan Sha,musim enak-enaknya melakukan pernikahan........ ",jawab si teman tadi.Ternyata ilmu "othak-athik gathuk" modern lain dengan "othak-athik gathuk Kuno".Lho,pernikahan memang berhubungan dengan panas dan dingin?Catatan : Gambar milik UKDW
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Prev | Next > |
|---|
Nasional
Pemimpin Communicator........
20:58
Mbah Kakung saya mempunyai resep sendiri untuk calon pemimpin mendatang.Di Minggu yang terik,yang...
20:58
Kabar Dunia
Wajah sedap Barack Obama.......
09:38
Siapa yang masih percaya bahwa tampilan kecantikan dan ketampanan seseorang di hubungkan dengan...
09:38
Gambar Pilihan
Berlangganan
Author
belum sempat kutebus cahaya, redup itu belah dari cermin.berderai menjadi lanskap malang.gurun pasir-pasir tersangai.matahari tua ke arah barat. bergelimun tanpa bayang-bayang.“aku akan pulang!" kudengar suaramu perih seperti letusan tengah malam.tapi yang kugambar kemudian, adalah sebuah kereta yang tak lagi pernah kembali.aku tak ingin melukis wajahmu yang termangu di jendelanya.pohon-pohon tertinggal.karib desah desau sunyi.rambutmu memang belum selesai kuhitung.baru sebahu gerai. atau sebatas malam terlanjur cepat.tapi langit-langitku terperangkap cermin pecah, dan seekor kunang-kunang menyiang sepi sendiri.ke sana, ke negeri yang bergelombang, “aku akan pulang!" katamu tak tertegah.tiba-tiba kubayangkan sebuah perang yang angkuh telah menunggumu.(kutipan sajak Iyut Fitra dalam "Kunang-kunang dan gambar sebuah kereta")
Syndicate
Who's Online






![]() | Today | 108 |
![]() | Yesterday | 224 |
![]() | This week | 332 |
![]() | This month | 1353 |
![]() | All | 37732 |




Orang Jawa paling sering melakukan "othak-athik gathuk".Sebuah perkataan dihubung-hubungkan ,dan mungkin sedikit dipaksakan untuk cocok dengan sebuah keadaan.Misalnya untuk urusan hari,hari Selasa yang dalam bahasa jawa diucapkan "Seloso", diartikan dengan "sela-selane mongso".Kurang lebih berarti "sebuah saat dimana segalanya menjadi sepi atau longgar".Maka ada anekdot bahwa jangan memulai sesuatu hal pada hari Selasa,karena akan berakibat kurang baik.Hubunganya tentu saja pada makna hari Selasa yang "selo" atau sepi tadi.Tentu saja bagi mereka yang percaya.Selasa dalam kosmologi(istilahnya tepak nggak ya?) kebatinan Jawa setara dengan hari Jumat,apalagi kalau berbarengan dengan hari pasaran Jawa yaitu Kliwon.Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon adalah hari keramat.Tak heran kalau pada malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon di Parangkusumo sana,banyak orang yang laku kejawen datang untuk berziarah dan tirakatan.
",jawab si teman tadi.Ternyata ilmu "othak-athik gathuk" modern lain dengan "othak-athik gathuk Kuno".Lho,pernikahan memang berhubungan dengan panas dan dingin?









