ImagePesta kemenangan itu bernama hari raya lebaran.Meski bermaaf-maafan tidaklah mesti dilakukan pada Hari Raya Idul Fitri,namun sebuah momen di penghujung puasa telah menjadi tradisi bahwa setelah membersihkan diri di bulan puasa maka mesti dibarengi dengan silaturahmi membersihkan dosa terhadap sesama.

Maka lebaran juga menjadi sebuah tradisi kaum urban untuk bersilaturahmi dengan anggota keluarganya di kampung halaman.Biaya mahal,kemacetan berjam-jam dan segala pernik yang mewarnainya adalah sebuah cerita yang selalu berulang dari tahun ke tahun.

Mungkin lebaran bukan kewajiban meski juga bukan sesuatu hal yang mesti dilewatkan begitu saja.Maka segala upaya ditempuh meski dengan resiko yang sebenarnya tergolong tinggi,ternasuk dengan berdesak-desakan di Kereta api Ekonomi dan mengendarai sepeda motor dalam jarak ratusan kilometer.Gambar diatas adalah catatan Koran Tempo edisi 4 Oktober 2008.Angka kecelakan memang turun tajam dibandingkan tahun 2008.Namun kalau boleh berandai-andai,seandainya tidak mudik lebaran...Atau lebih jauh lagi,seandainya terdapat angkutan massal mudik lebaran yang aman dan terjangkau masyarakat banyak,barangkali angka kecelakaan bisa sedikit berkurang.Barangkali juga sebuah pesta kemenangan tidak harus menjadi tragedi yang menyesakkan dada.
Comments
Add New RSS
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."



 
< Prev   Next >

Indonesia Joomla Topsites
Add to My Yahoo!
Add to Google
created by: Max
This is my Google PageRank™ - SmE Rank free service Powered by Scriptme

Author

tear-drop1.jpg
belum sempat kutebus cahaya, redup itu belah dari cermin.berderai menjadi lanskap malang.gurun pasir-pasir tersangai.matahari tua ke arah barat. bergelimun tanpa bayang-bayang.“aku akan pulang!" kudengar suaramu perih seperti letusan tengah malam.tapi yang kugambar kemudian, adalah sebuah kereta yang tak lagi pernah kembali.aku tak ingin melukis wajahmu yang termangu di jendelanya.pohon-pohon tertinggal.karib desah desau sunyi.rambutmu memang belum selesai kuhitung.baru sebahu gerai. atau sebatas malam terlanjur cepat.tapi langit-langitku terperangkap cermin pecah, dan seekor kunang-kunang menyiang sepi sendiri.ke sana, ke negeri yang bergelombang, “aku akan pulang!" katamu tak tertegah.tiba-tiba kubayangkan sebuah perang yang angkuh telah menunggumu.(kutipan sajak Iyut Fitra dalam "Kunang-kunang dan gambar sebuah kereta")

Syndicate

Who's Online

We have 1 guest online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday105
mod_vvisit_counterYesterday224
mod_vvisit_counterThis week329
mod_vvisit_counterThis month1350
mod_vvisit_counterAll37729