Orang Jawa paling sering melakukan "othak-athik gathuk".Sebuah perkataan dihubung-hubungkan ,dan mungkin sedikit dipaksakan untuk cocok dengan sebuah keadaan.Misalnya untuk urusan hari,hari Selasa yang dalam bahasa jawa diucapkan "Seloso", diartikan dengan "sela-selane mongso".Kurang lebih berarti "sebuah saat dimana segalanya menjadi sepi atau longgar".Maka ada anekdot bahwa jangan memulai sesuatu hal pada hari Selasa,karena akan berakibat kurang baik.Hubunganya tentu saja pada makna hari Selasa yang "selo" atau sepi tadi.Tentu saja bagi mereka yang percaya.Selasa dalam kosmologi(istilahnya tepak nggak ya?) kebatinan Jawa setara dengan hari Jumat,apalagi kalau berbarengan dengan hari pasaran Jawa yaitu Kliwon.Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon adalah hari keramat.Tak heran kalau pada malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon di Parangkusumo sana,banyak orang yang laku kejawen datang untuk berziarah dan tirakatan.
Pakaian itu bernama jilbab.Tak berbeda dengan pakaian lain yang berfungsi untuk menutup tubuh,hanya saja jilbab menutup tubuh jauh lebih rapat dengan sedikit menyisakan bagian tubuh yang terlihat.Jilbab terdiri dari rangkaian penutup kepala,baju yang menjuntai sampai mata kaki dengan lengan panjang sampai pergelangan tangan.Konon,para pemakai jilbab membedakan antara berjilbab dengan berkerudung.Kalau ada seseorang bercelana ketat,berkaos ketat dan memakai kerudung itu disebut dengan berkerudung.Maka yang disebut berjilbab adalah sebuah pakaian longgar,entah 1 potong atau 2 potong,yang menutupi sampai pergelangan kaki dan tangan dan mengenakan kerudung.Entah kalau ada yang mempunyai versi lain.Dan satu lagi jilbab adalah pakaian untuk perempuan.
Pendatang haram,demikanlah sebutan pemda DKI dan pemda-pemda disekitarnya terhadap para pendatang yang tidak diharapkan kedatangannya.Maksud dari kata tidak diharapkan adalah para pendatang yang kedatangannya di metropolitan ini membawa masalah bagi pemerintah daerah.Maka meskipun Inul Daratista juga berasal dari kampung terpencil di Sidoarjo sana,pemerintah daerah tidak melihatnya sebagai pendatang haram.Satpol PP juga tidak perlu repot-repot melakukan operasi Yustisi untuk memeriksa apakah Inul memegang KTP DKI Jakarta atau tidak.Yang jelas kehadiran Inul di Jakarta ini dianggap tidak membawa masalah,melainkan membawa manfaat dengan banyak berdirinya ruang karaoke "Inul Vizta" yang memasok pajak pendapatan bagi daerah dan menyediakan lowongan kerja.
Beberapa bulan silam,ketika waktu sebenarnya sudah menginjak dini hari,seorang teman cewek menelepon saya.Sejak perang tarif murah antar operator telekomunikasi,orang sudah mulai kehilangan "kesopanan" dan waktu yang tepat untuk menelepon.Maka di waktu orang sebenarnya lebih nyaman berada di balik hangatnya selimut,masih saja ada orang yang menyempatkan diri untuk menelepon dengan memanfaatkan tarif murah tadi.
"Belum tidur kan Sha...?".
"Belum.....kenapa....?",suara sengaja saya beratkan agar memberi kesan saya baru terbangun dari tidur.Padahal malam itu saya masih berkutat di depan komputer mempersiapkan bahan-bahan untuk meeting besok pagi.
Ada batasan bahwa sebuah urusan pribadi merupakan sebuah hal yang harus dilindungi dari pengamatan publik.Ada keleluasaan untuk melaksanakan urusan pribadi tanpa adanya gangguan dari pihak lain.Ada sebuah proteksi bahwa apa yang kita kerjakan dan segala urusan personal kita hanya kita yang perlu mengetahui.Barangkali demikianlah kata "privasi" itu diterjemahkan.Maka "ruang" sebuah privasi membuat batas penegasan sampai dimana orang lain bisa masuk di dalam kehidupan seseorang.
..............keasingan yang kian jauh
wahai, telah kupintal semuanya. juga lagu-lagumu yang pahit
tentang jendela-jendela di kota tua. kau mengintip sinar bulan
menyerahkan bibir jambu itu seraya memintaku melukis kunang-kunang
tapi aku digulung kelam, kekasih. rindu seolah cair terbawa matahari
sedangkan cawan yang kau berikan pecah oleh nasib
kemarilah, sebelum kereta itu tinggal lengking
malam singgah di lengang-lengang. warung kecil tepi jalan
dan ciumanku yang tak selesai. adalah kenangan yang merebut hari esok
"kita hanya pejalan yang pasti tua pada saatnya!"
pelangi mengabur. di ujung jalan itu airmatamu tak terjalin lagi; derai
tapi di dinding kamar, lukisan cinta itu akan terus ada ( kutipan sajak Iyut Fitra dalam "SEBUAH KERETA YANG TAK PERNAH KAU KENAL")