Menyaksikan James Bond beraksi seperti membangkitkan sebuah kenangan lama.Kenangan tentang sebuah bioskop kecil yang terletak di sudut Alun-alun Utara Yogyakarta.Widya Theatre namanya.Bukan bioskop yang mewah seperti bioskop-bioskop milik jaringan 21.Bukan pula sebuah bioskop yang memutar film-film pada tayangan perdana.Widya theater hanya memutar film-film yang sebelumnya sudah dimainkan di bioskop utama.Namun bioskop inilah yang menjadi favorit anak-anak kost yang berkantong cekak.Kami menyebutnya sebagai bioskop murah meriah.Ketika film James Bond atau film-film laris lain di putar di bioskop ini,biasanya 3 bulan setelah tayang perdana di bioskop utama,maka antrian untuk mendapatkan tiket bisa luber sampai ke jalan raya.Terasa menggelikan kalau dilihat dalam kondisi sekarang.setelah 3 bulan tayang perdana,masih banyak orang rela berdesak-desakan demi selembar tiket film murah.
Giring,vokalis Nidji,merasa resah dengan anjloknya penjualan album Nidji.Kepada Nidjiholic,kelompok penggemar Nidji,Giring pernah membuat sebuah pesan yang mungkin sangat sulit untuk dilaksanakan.Giring berharap agar Nidjiholic tidak membeli CD bajakan,tidak mendownload lagu dari internet dan tidak berbagi lagu menggunakan fasilitas bluetooth pada telepon seluler.Tentunya himbauan ini tak lain dan tak bukan adalah demi meningkatkan angka penjualan album-album Nidji.
Akhirnya saya terprovokasi juga untuk menonton film Laskar Pelangi .Setelah sedikit bersusah payah berdesak-desakan dalam antrian panjang pembelian tiket,2 lembar tiket pun saya dapat.Tiket itu bernomor L13 dan L14.Itu artinya saya berada di barisan terdepan kursi penonton.Rasanya,ini kali kedua dalam hidup saya menonton film dari barisan kursi terdepan.Film pertama yang juga saya tonton dari deretan kursi terdepan adalah ketika film "Die Hard" yang dibintangi Bruce Willis meledak di era 90-an.
..............keasingan yang kian jauh
wahai, telah kupintal semuanya. juga lagu-lagumu yang pahit
tentang jendela-jendela di kota tua. kau mengintip sinar bulan
menyerahkan bibir jambu itu seraya memintaku melukis kunang-kunang
tapi aku digulung kelam, kekasih. rindu seolah cair terbawa matahari
sedangkan cawan yang kau berikan pecah oleh nasib
kemarilah, sebelum kereta itu tinggal lengking
malam singgah di lengang-lengang. warung kecil tepi jalan
dan ciumanku yang tak selesai. adalah kenangan yang merebut hari esok
"kita hanya pejalan yang pasti tua pada saatnya!"
pelangi mengabur. di ujung jalan itu airmatamu tak terjalin lagi; derai
tapi di dinding kamar, lukisan cinta itu akan terus ada ( kutipan sajak Iyut Fitra dalam "SEBUAH KERETA YANG TAK PERNAH KAU KENAL")