ImageAda beberapa cara lafal bunyi untuk menyebut nama Yogyakarta.Orang-orang di tempat kelahiran saya di Bantul sana menyebutnya dengan "Yugjo" dengan bunyi o seperti pada pengucapan "monggo","telo" dan "o"-"o" lain dalam umumnya kosa kata Jawa.Namun ada pula yang lebih suka menyebutnya dengan Jogja.Dan rasanya kebanyakan orang lebih sering mengucapkan kata ini dibandingkan misalnya kata "Yogyakarta" yang memang merupakan penyebutan resmi kota Yogyakarta dalam struktur pemerintahan.Maka kalau anda berada di Yogyakarta dan kebetulan berbincang dengan warga Yogyakarta dan mereka menyebut "Yugjo" ataupaun "Jogja" maka pengertian yang dimaksud adalah Yogyakarta.Barangkali hanya Yogyakarta sajalah,satu tempat yang penyebutan namanya bisa berbeda-beda.
Dulu,semasa masih duduk di bangku sekolah dasar,sering juga bertanya dalam hati soal banyaknya penyebutan itu.Barangkali karena ulah lidah jawa yang memang sering mengucapkan kata yang terasa lebih enak di lidah dibandingkan mesti mencari mana penyebutan yang benar.Maka saya hanya mereka-reka bahwa mungkin "Jogja" adalah penulisan "Yogya" dalam ejaan lama.Sementara Yugjo" merupakan sebutan umum karena lebih gampang pengucapannya dibandingkan pengucapan "Yogya" misalnya.

Kalau melihat dari sisi sejarah penyebutan "Yogya" lah yang benar,menilik bahwa penyebutan itu berasal dari nama Kerajaan di Yogya tempo dulu yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.Maka atas dasar itu pulalah kemudian nama propinsi yang mendapat status istimewa dari pemerintah RI ini dinamakan "Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta" dan bukan "Propinsi Daerah Istimewa Jogjakarta" misalnya.Kemudian kesimpulan yang gampang adalah penyebutan "Yugja" ataupun "Jogja" adalah penyebutan masyarakat umum,sedangkan "Yogyakarta" adalah penyebutan secara resmi.
 
Karena dipakai dalam tataran resmi ,maka penyebutan kata "Yogyakarta" pula yang sering dipakai dalam tulisan-tulisan di media cetak.Namun tidak demikian halnya dengan Jawa Pos.Jawa Pos yang merupakan media daerah yang kemudian menjadi raksasa media nasional lebih suka memakai sebutan Jogja.Ini bisa dilihat dengan penerbitan koran daerah di Yogya yang diberi nama "Radar Jogja".Kata Jogja bukan hanya sekedar penamaan harian tersebut,bahkan dalam tulisan yang termuat di dalamnya Jawa Pos juga lebih suka menggunakan Jogja dari pada Yogya.Maka jangan heran kalau dalam harian tersebut ,Jawa Pos lebih suka mneyebut Sri Sultan HB X sebagai gubernur DIJ ( Daerah Istimewa Jogjakarta ) dibandingkan menyebutnya dengan gubernur DIY ( Daerah Istimewa Yogyakarta ) yang lazim digunakan media-media lain.

Tadinya saya berpikir bahwa "Radar Jogja" memang salah ketik.Namun ketika seluruh berita di harian itu mneyebut Yogya dengan Jogja" maka barangkali Jawa Pos dengan "Radar Jogja" nya ingin mempelopori penyebutan Jogja dalam tataran resmi.Dan tak berlebihan rasanya karena memang nilah yang lebih gampang dan umum diucapkan.Bagi penduduk di luar Jogja tak perlu ragu menjadi salah ketika tiba di Jogja kemudian berteriak kegirangan seperti dalam iklan-iklan di TV,"Jogja........".Dan karena lidah tak bertulang,maka lenturlah pengucapan salah kaprah itu karena lidah saya pun lebih fasih melafalkan "Jogja" dari pada "Yogya".
Comments
Add New RSS
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."



 
< Prev   Next >

Indonesia Joomla Topsites
Add to My Yahoo!
Add to Google
created by: Max
This is my Google PageRank™ - SmE Rank free service Powered by Scriptme

Author

tear-drop1.jpg
belum sempat kutebus cahaya, redup itu belah dari cermin.berderai menjadi lanskap malang.gurun pasir-pasir tersangai.matahari tua ke arah barat. bergelimun tanpa bayang-bayang.“aku akan pulang!" kudengar suaramu perih seperti letusan tengah malam.tapi yang kugambar kemudian, adalah sebuah kereta yang tak lagi pernah kembali.aku tak ingin melukis wajahmu yang termangu di jendelanya.pohon-pohon tertinggal.karib desah desau sunyi.rambutmu memang belum selesai kuhitung.baru sebahu gerai. atau sebatas malam terlanjur cepat.tapi langit-langitku terperangkap cermin pecah, dan seekor kunang-kunang menyiang sepi sendiri.ke sana, ke negeri yang bergelombang, “aku akan pulang!" katamu tak tertegah.tiba-tiba kubayangkan sebuah perang yang angkuh telah menunggumu.(kutipan sajak Iyut Fitra dalam "Kunang-kunang dan gambar sebuah kereta")

Syndicate

Who's Online

We have 1 guest online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday107
mod_vvisit_counterYesterday224
mod_vvisit_counterThis week331
mod_vvisit_counterThis month1352
mod_vvisit_counterAll37731