Image Setidaknya,saya mengalami 3 peristiwa kematian yang begitu menarik perhatian banyak orang.Meninggalnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX,Pak AR Fachrudin (mantan Ketua Umum Muhammadiyah ) dan terakhir tentu saja meninggalnya mantan Presiden Soeharto.Dengan segala kenangan yang ada masing-masing meninggalkan kesan di benak banyak orang.

Ketiganya mempunyai persamaan,memegang kekuasaan sangat lama pada masing-masing lembaga yang dipimpinnya.Sri Sultan HB IX sebagai Raja Kasultanan Yogyakarta sekaligus Gubernur DIY dikenang warga Yogya sebagai sosok berwibawa,pelindung dan punya komitmen tinggi terhadap rakyatnya.Pak AR Fachrudin,Ketua Umum Muhammadiyah selama beberapa periode dikenang sebagai sosok yang sangat sederhana dalam hidupnya.Yang banyak dikenang orang adalah cara beliau dalam menyampaikan ajaran agama.Dalam ceramah-ceramahnya Pak AR selalu menyampaikan ajaran agama dengan cara ringan,tidak membuat kening berkerut sehingga gampang difahami oleh orang awam sekalipun.

Kalau hanya terdapat sedikit warna yang membekas dalam memori banyak orang terhadap kedua tokoh diatas,maka warna yang lebih komplek ada pada diri mantan Presiden Soeharto.Setidaknya hal itu tergambar pada  acara rekam jejak perjalanan Soeharto yang disiarkan secara marathon hampir pada stasiun televisi kita.Soeharto adalah sosok unik yang membiaskan dua kesan sekalius kebencian dan kekaguman.Melakukan sesuatu hal yang membangkitkan kekaguman orang sekaligus menimbulkan kebencian banyak orang.

Stabilitas nasional sebagai basis pembangunan pada era Soeharto dicapai dengan jalan berdarah-darah.Indonesia waktu itu adalah Indonesia yang hening dan berjalan nyaris tanpa gejolak.Ketika rasa aman yang didambakan banyak orang mulai terusik,Soeharto mengatasinya dengan cara yang sangat tidak lazim.Di tahun 1983 Soeharto memulai sebuah metode untuk menekan angka kriminalitas dengan apa yang kemudian dikenal dengan penembakan misterius atau petrus.Sejumlah orang yang masuk dalam daftar hitam pihak kemananan ditembak di tempat tanpa proses pengadilan.

Era Soeharto adalah era keseragaman.Penerapan asas tunggal banyak ditentang oleh oraganisasi Islam.Dan sebelum masa berdirinya ICMI,hubungan Islam dan Soeharto tidaklah berjalan harmonis.Sepak terjang Sudomo sebagai Pangkopkamtib menjadi   momok dalam hubungan Soeharto dan Islam.Kegiatan aktifis Islam dimata-matai.Puncaknya adalah peristiwa Tanjung Priok berdarah.Sebuah peristiwa yang menghantarkan AM Fatwa ke penjara.Ketika itu AM Fatwa menjalani proses pengadilan dalam keadaan sakit berat,sebuah hal yang justru menghindarkan Soeharto untuk dibawa ke pengadilan di masa kini.

Begitu banyak hal yang menjadi kenangan orang terhadap diri Pak Harto.Kalau kemudian banyak orang yang mengenang pemerintahan Soeharto sebagai sebuah kenangan manis adalah efek dari kehidupan keseharian yang langsung dirasakan oleh kebanyakan orang.Harga-harga kebutuhan pokok yang jauh lebih terjangkau.Ketersediaan bahan-bahan pokok itu sendiri di pasaran.Kenangan itu makin menggoda kala menyaksikan di era sekarang orang mesti berjubel untuk sekedar mendapatkan seliter dua liter minyak tanah.

Kalau kita perhatikan,keadaaan pada era Soeharto adalah kebalikan dari masa sekarang.Ketersediaan bahan pangan dan kebutuhan sehari-hari yang terjangkau harganya,harus dibayar dengan dengan dibatasinya kebebasan berpendapat dan tertutupnya akses berpolitik.Sementara di saat sekarang,kebebebasan berpendapat dibuka selebar-lebarnya,akses berpolitik dibuka namun kemudian namun kita tidak berdaya di sektor bahan pangan dan kebutuhan sehari-hari.

Keadaan di era Soeharto seperti kerinduan kita di masa kecil kepada permen telor cicak.Sebuah permen manis dengan coklat di dalamnya.Begitu nyaman dikunyah meski dengan resiko gigi bolong membayang.Sementara keadaan sekarang mungkin dibaratkan minum jamu.Kita rasakan pahitnya untuk kemudian hasilnya akan dinikmati manisnya di masa datang.Namun barangkali apa yang kita rasakan sekarang bukanlah jamu,namun empedu yang akan tetap terassa pahitnya sampai kapanpuin juga.Kita takkan tahu sampai kapan keadaan ini akan membaik atau justru malah akan memburuk ke depannya.

Bukankah keterpurukan ini hasil dari pemerintahan Soeharto juga?Logika keseharian tidak cukup mampu memahami itu semua.Logika keseharian hanya merasakan bahwa semua kebutuhan sehari-hari menjadi tidak terjangkau.Logika keseharian hanya merasakan sekarang negara penuh hiruk pikuk dan kekacauan.

Comments
Add New RSS
donnie     |217.115.75.xxx |2008-02-07 09:30:41
Gravatar image Gak ada habisnya kalau mau berdebat ttg bekas presiden kita yang satu ini.
Mungkin banyak pelanggaran HAM dilakukan dimasanya tapi ada jutaan rakyat yg
menikmat pendidikan murah, harga bhn pokok yg relatif terjangkau, suasana
"terkontrol" , etc. Pemimpin setelahnya mungkin "bersih" tapi
tidak punya "prestasi". Mereka bahkan tidak mampu menawarkan permen
telur cicak sekalipun.
btw, nice posting..:-)
GusKoko  - Membelokan sejarah.     |125.163.91.xxx |2008-02-10 16:07:14
Gravatar image Satu lagi keahlian Presiden Kedua ini adalah pintar membelok-kan sejarah.
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."



 
< Prev

Indonesia Joomla Topsites
Add to My Yahoo!
Add to Google
created by: Max
This is my Google PageRank™ - SmE Rank free service Powered by Scriptme

Author

tear-drop1.jpg
belum sempat kutebus cahaya, redup itu belah dari cermin.berderai menjadi lanskap malang.gurun pasir-pasir tersangai.matahari tua ke arah barat. bergelimun tanpa bayang-bayang.“aku akan pulang!" kudengar suaramu perih seperti letusan tengah malam.tapi yang kugambar kemudian, adalah sebuah kereta yang tak lagi pernah kembali.aku tak ingin melukis wajahmu yang termangu di jendelanya.pohon-pohon tertinggal.karib desah desau sunyi.rambutmu memang belum selesai kuhitung.baru sebahu gerai. atau sebatas malam terlanjur cepat.tapi langit-langitku terperangkap cermin pecah, dan seekor kunang-kunang menyiang sepi sendiri.ke sana, ke negeri yang bergelombang, “aku akan pulang!" katamu tak tertegah.tiba-tiba kubayangkan sebuah perang yang angkuh telah menunggumu.(kutipan sajak Iyut Fitra dalam "Kunang-kunang dan gambar sebuah kereta")

Syndicate

Who's Online

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday174
mod_vvisit_counterYesterday224
mod_vvisit_counterThis week398
mod_vvisit_counterThis month1419
mod_vvisit_counterAll37798