Sat
13
Sep
2008
Di sebuah siang yang cerah,seseorang menyambangi sebuah kios penjual bunga.Kios penjual bunga itu berada di halaman sebuah mushola dan memiliki 3 orang muda sebagai karyawannya.Setelah memilih bunga yang diinginkannya,seseorang itu bertanya,"Berapa harganya?"."Tiga ratus ribu rupiah pak...",jawab si penjual bunga."Kok murah amat...,bagaimana kalau lima ratus ribu rupiah",kata si pembeli.Belum sempat si penjual menjawab si pembeli melanjutkan",Sudahlah...kau jual limaratus ribu rupiah,toh yang membayar kantor saya.Nanti kalian saya bagi lima puluh ribu rupiah".Dan kemudian si penjual memang menulis angka lima ratus ribu rupiah di bon penjualan.Si pembeli cukup membayar tiga ratus ribu rupiah plus uang lima puluh ribu rupiah sebagai imbalan kepada tiga anak muda penjaga kios bunga tadi.
Cerita di atas bukanlah kejadian sesungguhnya.Cerita diatas adalah potongan dari adegan dalam sinetron "Para Pencari Tuhan" yang ditayangkan di SCTV setiap hari jam 03.00 dini hari.Persoalan menjadi serius ketika Bang Jack,diperankan Dedy Mizwar,yang juga orang tua angkat ketiga anak muda tadi menganggap perbuatan itu adalah perbuatan korupsi.Maka uang hasil perbuatan korupsi tidak layak digunakan untuk hal apapaun juga karena merupakan uang dari hasil perbuatan haram.
Di dalam keseharian praktek-praktek seperti itu adalah hal yang sudah biasa dilakukan.Di dalam keseharian praktek-praktek itu lazim disebut dengan upaya mencari penghasilan sampingan.Hasil dari praktek-praktek seperti itu merupakan penunjang operasional harian sementara gaji utama digunakan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari yang makin hari semakin mahal.Kalau anda punya penghasilan yang enggan beranjak dari limit UMR propinsi,maka peluang-peluang seperi itulah yang mungkin lebih gampang dilihat agar anggaran kebutuhan rumah tangga tidak menjadi defisit berkepanjangan. Saya diberikan kesempatan beberapa kali pindah kerja dan melihat praktek-praktek sebagai upaya menambah penghasilan tadi.Apakah praktek-praktek itu merupakan sebuah perbuatan korupsi?Yang jelas kreatifitas itu terus berjalan dan mungkin di kemudian hari ada praktek-praktek lain yang berbeda dengan yang terjadi saat ini. 1. Penggunaan bon palsu.
Inilah praktek yang gampang ditemui di keseharian seperti yang terjadi di kisah sinetron di atas.Kalau anda berada di bagian pengadaan,maka praktek-praktek tersebut bukanlah sesuatu yang aneh.Bahkan seandainya pun anda memang tidak berkehendak untuk menggunakan bon palsu,biasanya si penjual malah terang-terangan menawarkan penggunaan bon palsu tersebut.Di kemudian hari berkembang dengan tawaran pemberian komisi atau hadiah kalau pembelian anda dalam partai besar dan berjalan secara rutin dari waktu ke waktu.Motivasinya jelas agar anda tidak berpindah ke merk lain atau penjual lain.
2. Sabotase pekerjaan perusahaan.
Ini lazim dilakukan di perusahaan yang bergerak di layanan jasa.Order yang semestinya diperuntukkan untuk kantor dikerjakan sendiri meskipun negoisasi dan segala macam keperluan untuk mendapatkan order tersebut menggunakan biaya dan fasilitas kantor.Hal ini biasanya susah terpantau karena order yang disabotase relatif kecil nilainya dan pengawasan kantor tidak menjangkau secara detil aktivitas yang berjalan di luar kantor.
3. Mengkomersialkan tugas.
Kebiasaan yang satu ini sangat menjengkelkan,karena karyawan yang bersangkutan biasanya meminta semacam upah untuk pekerjaan yang sebenarnya merupakan tugas dari karyawan tersebut.Seorang teman yang menjadi salesman di sebuah perusahaan berkisah bahwa ketika dia akan membuat tagihan ke bagian administrasi atas sejumlah barang yang berhasil dijualnya,maka sang teman tadi mesti mengeluarkan sejumlah uang ke bagian administrasi,yang notabene berada dalam satu payung perusahaan yang sama, agar berkas yang diajukannya tadi segera di proses.Seandainya sang teman tadi bersikukuh untuk tidak memberikan sejumlah uang,maka berkas tadi meskipun juga dikerjakan biasnaya akan memakan waktu yang lama.Hal yang sama juga berlaku ketika mengajukan ke perusahaan-perusahaan besar.Sejumlah uang mesti disiapkan ke sejumlah meja yang dilewati oleh berkas tagihan tadi agar prosesnya berjalan lancar.
4. Menjadi makelar di perusahaan sendiri.
Lazim terjadi di perusahaan kontraktor.Dalam pengerjaan proyek skala besar biasanya perusahaan mensubkonkan item pekerjaan-pekerjaan tertentu ke pada sejumlah mandor yang membawahi beberapa pekerja.Biasanya perusahaan mempunyai karyawan yang bertugas mencari mandor sebagai subkon tadi.Penujukkan mandor sebagai subkon tadi tidaklah gratis,karena karyawan yang bertugas sebagai pencari mandor biasanya akan memotong sejumlah uang dari pembayaran perusahaan kepada subkon tadi.Bila subkontraktor tadi tidak bersedia dipotong uang pembayarannya,maka dipastikan di lain waktu si karyawan pencari subkontraktor akan beralih ke subkontraktor lain.
Apapun bentuknya itulah sebuah upaya menuju sebuah kehidupan yang dalam kenyataanya tidak melulu dituntut hanya untuk memenuhi kebutuhan primer.Ada kebutuhan lain yang mesti dicukupi selain sandang dan pangan.Pendidikan yang semakin mahal,biaya kesehatan dan bermacam kebutuhan lain yang datang secara bertubi-tubi dan mendesak membutuhkan jawaban.Ketika sebuah upah tidak juga bergerak dari angka UMR,maka kreatifitas itu tercipta dengan dahsyat dan tidak malu-malu lagi.Sebuah kreatifitas yang ternyata menggerakkan ke sebuah level di mana semestinya orang berada di dalam kehidupan.
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|
Author
belum sempat kutebus cahaya, redup itu belah dari cermin.berderai menjadi lanskap malang.gurun pasir-pasir tersangai.matahari tua ke arah barat. bergelimun tanpa bayang-bayang.“aku akan pulang!" kudengar suaramu perih seperti letusan tengah malam.tapi yang kugambar kemudian, adalah sebuah kereta yang tak lagi pernah kembali.aku tak ingin melukis wajahmu yang termangu di jendelanya.pohon-pohon tertinggal.karib desah desau sunyi.rambutmu memang belum selesai kuhitung.baru sebahu gerai. atau sebatas malam terlanjur cepat.tapi langit-langitku terperangkap cermin pecah, dan seekor kunang-kunang menyiang sepi sendiri.ke sana, ke negeri yang bergelombang, “aku akan pulang!" katamu tak tertegah.tiba-tiba kubayangkan sebuah perang yang angkuh telah menunggumu.(kutipan sajak Iyut Fitra dalam "Kunang-kunang dan gambar sebuah kereta")
Syndicate
Who's Online






![]() | Today | 177 |
![]() | Yesterday | 224 |
![]() | This week | 401 |
![]() | This month | 1422 |
![]() | All | 37800 |













