Sun
13
Apr
2008
Sejauh mana ketahanan orang untuk tetap terjaga ketika mendengarkan pemaparan,pidato atau ceramah?Barangkali hitungan itu bisa berupa menit,jam bahkan hari tergantung sejauh mana pemaparan itu dianggap sebagai hal penting dan menyenangkan.Di masa orde baru,entah di masa sekarang,setiap mahasiswa baru yang diterima di perguruan tinggi diwajibkan mengikuti penataran P4 ( Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila ) yang penyelenggaraannya biasanya bersamaan dengan pelaksanaan OPSPEK (Orientasi Program Studi dan Pengenalan Kampus ) atau yang dalam bahasa lebih gampang orang menyebutnya dengan acara perpeloncoan.Pada waktu itu penataran P4 diselenggarakan dalam waktu seminggu.Sepanjang hari mendengarkan ceramah bisa ditebak kalau setelah jam 12 siang banyak peserta yang berkali-kali menutup mulutnya yang menguap pertanda kantuk mulai menyerang.
Konon rasa kantuk adalah anugerah tersendiri.Berapa banyak orang yang menjadi stres gara-gara rasa kantuk tak kunjung datang,yang tentu saja berakibat tidak bisa tidur sepanjang malam.Namun kalau rasa kantuk menyerang tak kenal waktu tentu juga bukan sesuatru hal yang baik.Apalagi kalau rasa kantuk itu menyerang di siang bolong dimana pada-pada waktu seperti itu kita sedang berada dalam puncak aktifitas.
Barangkali manusia memang didesign Tuhan sebagai makhluk yang malas mendengarkan orang berbicara.Maka menjadi pemandangan yang biasa disaksikan kalau orang terkantuk-kantuk ketika sedang ada ceramah atau pidato.Pada hari jumat dimana kaum muslimin melakukan aktifitas sholat jumat,di dalam masjid sering terlihat jamaah yang terkantuk-kantuk ketika sang khotib sedang membacakan khutbah jumat.Udara yang berhembus sepoi-sepoi yang berhembus dari putaran kipas angin seolah nyanyian nina bobo yang melenakan.Sampai-sampai seorang teman pernah mengatakan bahwa tidur siang paling nikmat adalah pada hari jumat pada waktu khotib sedang membacakan khutbah,padahal rasa kantuk yang teramat sangat di siang hari itu tidak dirasakannya ketika melakukan aktifitas pada hari-hari lain selain hari jumat. Di masa lalu,barangkali kebiasaan tersebut masih berlanjut hingga saat ini, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang sering tertidur di tengah-tengah acara seminar yang beliau ikuti.Anehnya meski tertidur Gus Dur tidak pernah kehilangan arah pembicaraan.Ketika moderator atau peserta diskusi menanyakan sesuatu kepada beliau,jawaban Gus Dur selalu "nyambung" dengan topik yang sedang dibahas.Inilah yang menimbulkan spekulasi di banyak kalangan bahwa Gus Dur memiliki ketajaman indra ke enam.Padahal seperti diakui beliau sendiri dalam acara Kick Andy di Metro TV beberapa waktu lalu,Gus Dur hanya mengingat beberapa kata terakhir yang didengarnya agar tidak kehilangan arah topik pembicaraan. Kreatifitas timbul untuk menyiasati keadaan.Maka banyak orang yang berimprovisasi dalam berpidato atau ceramah dengan menyelipkan humor-humor sebagai selingan agar para pendengar tidak gampang terlelap dan antusias terhadap isi ceramah.Di dunia dakwah Islam pun berlaku demikian.Da'i kondang KH. Zainudin MZ yang kondang dengan sebutan da'i sejuta umat tak lupa menyelipkan humor-humor dalam ceramahnya.Demikian juga apa yang dilakukan oleh KH Abdulah Gymnastiar.Tak heran kalau banyak orang yang gemar mendengarkan ceramah beliau.Dan yang jelas para pendengar menjadi betah mendengarkan ceramah tanpa harus terkantuk-kantuk meskipun ceramah itu berdurasi 2 jam. Tentu bukan karena Presiden SBY tidak bisa menyelipkan humor,kalau kemudian para peserta Forum Konsolidasi Pimpinan Pemerintahan Daerah di Lemhanas justru terkantuk-kantuk ketika Presiden SBY mulai memberikan pidato pengarahannya.Bahkan saking jengkelnya sehingga Presiden pun memberikan teguran langsung di tengah-tengah pidatonya.Dan tentu bukan pula sebuah keharusan agar Presiden SBY berimprovisasi macam Tukul Arwana sembari berteriak "Tombo ngantuuuk...", ketika melontarkan humor yang menyerempet ke arah sex.Gestur penampilan seorang presiden tentunya lain dengan penampilan konyol seorang pelawak.Tanpa bertingkah laku konyol pun terkadang seorang Presiden bisa dianggap konyol kalau sejumlah kebijkasanaan yang ditempuhnya tidak menemui sasaran. Boleh saja Muladi,ketua Lemhanas,mengatakan bahwa padatnya jadwal acara adalah penyebab ngantuknya para peserta.Atau juga,masih kata Muladi,bahwa peserta yang mengantuk adalah penderita kencing manis.Namun bisa jadi timbulnya rasa kantuk adalah karena sedikitnya rasa antusias yang dimiliki terhadap materi yang diberikan.Antusiasme tidak mesti dipacu dengan humor-humor atau kata-kata pemancing tawa.Tapi antusiasme juga berhubungan dengan rasa tanggung jawab dalam pengelolaan daerah yang dimanatkan rakyat kepadanya.Tanpa rasa antusias yang ada hanyalah rasa bosan dan tidak menganggap penting materi yang diberikan. Sudah terlalu sering kita saksikan di layar-layar televisi para anggota DPR memilih terkantuk-kantuk bahkan ada beberapa diantaranya yang tertidur dengan mulut "nylangap" dibandingkan mendengarkan materi sidang ataupun memberikan usul-usul untuk sidang.Sebuah kebiasaan yang bisa saja menjadi sebuah kewajaran karena seringnya hal tersebut terjadi.Tentunya ruang sidang ataupun ruang pertemuan bagi pejabat-pejabat kita dibuat sedemikian nyaman dengan pendingin udara adalah untuk kenyamanan agar mereka dalam kondisi segar sehingga mampu bekerja maksimal untuk amanat yang diembannya.Dan kalau kemudian ruangan yang nyaman dengan pendingin udara justru dianggap merupakan penyebab absah atas terhadap mereka yang terkantuk-kantuk di dalamnya,sehingga terkantuk-kantuk pun dianggap sebagai sebuah kewajaran,barangkali memang ada yang salah dengan pemikiran kita.Kalau omongan seorang Presiden saja ditanggapi dengan tidur bagaimana dengan omongan kita sebagai rakyatnya......?
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||||||||||||||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|
Author
belum sempat kutebus cahaya, redup itu belah dari cermin.berderai menjadi lanskap malang.gurun pasir-pasir tersangai.matahari tua ke arah barat. bergelimun tanpa bayang-bayang.“aku akan pulang!" kudengar suaramu perih seperti letusan tengah malam.tapi yang kugambar kemudian, adalah sebuah kereta yang tak lagi pernah kembali.aku tak ingin melukis wajahmu yang termangu di jendelanya.pohon-pohon tertinggal.karib desah desau sunyi.rambutmu memang belum selesai kuhitung.baru sebahu gerai. atau sebatas malam terlanjur cepat.tapi langit-langitku terperangkap cermin pecah, dan seekor kunang-kunang menyiang sepi sendiri.ke sana, ke negeri yang bergelombang, “aku akan pulang!" katamu tak tertegah.tiba-tiba kubayangkan sebuah perang yang angkuh telah menunggumu.(kutipan sajak Iyut Fitra dalam "Kunang-kunang dan gambar sebuah kereta")
Syndicate
Who's Online






![]() | Today | 180 |
![]() | Yesterday | 224 |
![]() | This week | 404 |
![]() | This month | 1425 |
![]() | All | 37804 |




Sejauh mana ketahanan orang untuk tetap terjaga ketika mendengarkan pemaparan,pidato atau ceramah?Barangkali hitungan itu bisa berupa menit,jam bahkan hari tergantung sejauh mana pemaparan itu dianggap sebagai hal penting dan menyenangkan.Di masa orde baru,entah di masa sekarang,setiap mahasiswa baru yang diterima di perguruan tinggi diwajibkan mengikuti penataran P4 ( Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila ) yang penyelenggaraannya biasanya bersamaan dengan pelaksanaan OPSPEK (Orientasi Program Studi dan Pengenalan Kampus ) atau yang dalam bahasa lebih gampang orang menyebutnya dengan acara perpeloncoan.Pada waktu itu penataran P4 diselenggarakan dalam waktu seminggu.Sepanjang hari mendengarkan ceramah bisa ditebak kalau setelah jam 12 siang banyak peserta yang berkali-kali menutup mulutnya yang menguap pertanda kantuk mulai menyerang.







