Jan 11 2008
Gadis bertato naga.......
Friday, 11 January 2008
 
ImageMalam belum sepenuhnya larut.Namun tubuhku membeku terjebak dalam hujan tak berkesudahan.Sisa-sisa perjuanganku menerobos lebatnya hujan masih nampak.Jaket yang kukenakan sedikit basah.Bekas percikan air tertata sporadis di pakaian yang aku kenakan.

Aku menyempil di sudut sebuah halte bus.Mataku nyalang menatap hujan yang tak kunjung tiris.Aku memaki sejadi-jadinya.Kalau saja aku pulang lebih awal mungkin tubuhku sudah berada dipembaringan dengan mengenakan selimut tebal yang hangat.

Tak banyak yang berteduh di halte itu.Di sudut lain beberapa anak muda duduk berpasangan.Mereka tenggelam dalam perbincangan masing-masing.Mungkin mereka sedang berpacaran.”Ah,sampai pagi hujan tak reda pun mereka betah”,batinku.

“Sory…”,mendadak aku dikejutkan sebuah suara.Seorang gadis melompat ke dalam halte.Rambutnya yang tergerai cukup panjang membuat air memercik seiring lompatannya yang terburu-buru.Seorang gadis yang sangat cantik.
“Malaikatkah…”,batinku.Cukup janggal kehadiran seorang gadis cantik di malam yang menjelang larut.Bukan gadis yang bersolek tebal seperti yang biasa melambaikan tangan ketika mobil-mobil lewat.Meski pun harus diakui gadis ini pun berpakaian sangat sexy.Mengenakan celana hipster dan kaos ketat yang memperlihatkan sedikit bagian perutnya dengan jaket yang dibiarkan tidak tidak tertutup kancingnya.Sekilas terlihat sebuah tato di lingkaran pusarnya.Pakaian yang cukup terbuka untuk cuaca yang tengah hujan deras ini.Di punggungnya menempel sebuah tas punggung yang cukup besar.

Gadis itu mengibaskan rambutnya.Pandangannya acuh tak menghiraukan sekelilingnya.Ingin aku menyapanya,namun hasratku selalu lebih besar dari nyaliku.Kupilih kata-kata yang tepat untuk mebuka pembicaraan dengannya.
“Hujan deras sekali”,kataku datar,dalam hati mengutuk mengapa aku mengeluarkan kata-kata yang tolol.
Gadis itu hanya menoleh sebentar dan tersenyum.Diambilnya sebungkus rokok dari tas punggungnya,dinyalakannya dan sebentar saja asap rokok bergulung-gulung keluar dari mulutnya yang mungil.
“Mau kemana…?”,kataku lagi.
Lama tak terdengar jawaban.Gadis itu menoleh kearahku sembari tertawa kecil memperlihatkan deretan giginya yang tertata rapi.
“Begitukah caramu berkenalan”,tanyanya.”Caramu berkenalan sangat kuno”,katanya sambil tawanya berderai-derai.
Aku terkesiap.Mungkin malu,mungkin mukaku memerah.Maksud hatiku dengan gampang ditebaknya.Aku tak lagi melanjutkan obrolan.Mulutku terkunci rapat.

Tak berapa lama sebuah mobil van berhenti.Dari dalam mobil nampak seseorang keluar dengan membawa payung.Gadis disampingku melambai-lambaikan tangannya.Rupanya mobil itu menjemput gadis yang berdiri disampingku.Sebelum gadis itu masuk mobil,dia mendekat ke arahku sambil berbisik,”Namaku Olivia”.Aku tergagap.nafasnya hangat menerpa wajahku dan harum seharum nafas bayi.Gadis itu kemudian berlari meninggalkanku dengan tawanya yang berderai-derai.

********

Siang itu toko buku Gramedia ramai sekali.Maklum saja menjelang malam minggu dan tanggal muda selalu saja tempat-tempat perbelanjaan dipenuhi pengunjung.Seperti saat sebelumnya ,aku selalu menyempatkan untuk berkunjung ke toko buku.Entah untuk sekedar membaca-baca secara gratis.Atau juga melihat-lihat buku baru yang menarik untuk dibeli.Rak majalah sudah kutelusuri,kemudian rak bahasa dan sastra,komputer,sampai tak terasa kakiku menjadi pegal karena sudah terlampau lama berdiri.

Di pojok ruangan seorang gadis nampak asyik membaca buku tak menghiraukan sekelilingnya.Badannya disandarkan ke rack buku sementara kakinya disilangkan.Sekilas terbaca judul buku yang dibacanya,”Strategi perang Sun Tzu”.
“Olivia…”,sapaku ketika ku kenali wajahnya,wajah yang berpendar ditimpa lampu halte bus kota.
“Hi…..,kau yang di halte itu”,sapanya renyah.
Aku mengangguk.Olivia membalikkan badannya menuju ke arahku.Gaya berpakaiannya masih sama dengan gaya berpakaian ketika berteduh di halte bus itu.Celana hipster dengan kaos ketat yang memperlihatkan sedikit bagian bawah perutnya dan dibalut dengan jaket yang dibiarkan kancingnya terbuka.Aku menelan ludah,pusarnya nampak mengintip di balik kaos ketatnya.”Pusarnya bertato naga”,batinku.Aku tak berani melirik lebih lama lagi.

Olivia menunjukkan buku yang dibacanya.
“Bukankah hidup pada dasarnya adalah sebuah peperangan”,kata Olivia sembari mengangsurkan bukunya kepadaku.
“Makanya hidup memerlukan sebuah strategi”,lanjut Olivia.
Aku mengernyitkan dahi.Mataku menyipit menyimak buku yang diberikannya.Selanjutnya kami berbincang akrab.Sesekali tawanya yang berderai-derai terdengar.

Olivia bercerita bahwa dia berprofesi sebagai penari.Pada mulanya dia adalah penari yang menarikan tari-tari tradisional.Sayangnya,kesempatan untuk mencari penghidupan sebagai penari sangat terbatas.Olivia pun banting setir menjadi penari modern di klub-klub malam.

“Masyarakat kita adalah masyarakat feodal,maka dalam segala hal pun masyarakat mengelompokkan segala hal dalam kasta,termasuk profesi”,Olivia menlanjutkan pembicaraan.
“Kita hidup dalam stigma-stigma”,lanjut Olivia.Matanya menerawang jauh menembus batas.”Bahwa gadis pulang larut malam adalah gadis gampangan,bahwa seorang penari dianggap berprofesi rangkap sebagai wanita penghibur”.
“Masyarakat cenderung berpikir dan merendahkan profesi penari”,suara Olivia bergetar,”Apakah kau juga berpikir yang sama?”.
Aku tercekat,tidak siap menghadapi pertanyaan seperti itu.
”Ukuran kebaikan masing-masing orang sangat berbeda”,jawabku.”Tinggal sejauh mana kita yakin dengan ukuran yang kita pakai”.Aku mencoba menghindar memberikan jawaban yang frontal.

*********
Semakin lama aku semakin menyukai Olivia.Pada akhirnya kami sering jalan bersama.Suatu saat,ketika aku mengutarakan bahwa aku menyukainya,Olivia malah memperdengarkan tawanya berderai-derai.
“Setiap lelaki yang kukenal selalu mengatakan hal yang sama”,jawab Olivia.”Benarkah kau menyukaiku ataukah hanya sekedar nafsu karena kau tertarik dengan tubuhku?”.
Aku mengernyitkan dahi.
“Bukankah karena nafsu itu pula lelaki menyukai wanita,demikian juga wanita”,jawabku.”Karena tidak ada nafsu maka kaum gay tidak menyukai wanita,demikian juga karena tiadanya nafsu kaum lesbi tidak menyukai laki-laki”.
Olivia menggelangkan kepalanya.
“Bukan seperti itu yang aku maksud.Nanti malam datanglah ke tempat aku menari”,jawab Olivia.

Malam harinya aku menepati janjiku untuk datang ke tempat Olivia menari.Malam itu sebuah klub motor besar merayakan hari jadinya.Salah satu hiburan yang disajikan adalah kelompok penari dimana Olivia bergabung.

Dan benar saja,ketika musim berdentam-dentam,maka kelompok penari itu pun memainkan gerakan-gerakan yang sexy.Penonton bersorak sorai.Makin lama-gerakan itu semakin panas.Ketika kulihat Olivia memainkan gerakan tarinya,aku membuang muka.Tidak tega rasanya melihat bagian-bagian tubuh Olivia dipelototi para penonton.”Mereka pasti membahas bagian-bagian tubuh itu dengan pikiran cabul”,batinku.

Aku tidak tahan lagi untuk terus berada di dalam.Aku keluar ruangan menghindar dari suara riuh rendah yang memekakkan telinga.Aku memilih duduk menyalakan rokok sembari menunggu Olivia menyelesaikan acaranya.

**********

Aku hati-hati membungkus buku itu.Kuberi pita biru dan sebuah tulisan.Berkali – kali aku mebacanya ,setelah dirasa cukup aku membungkusnya lebih rapi.Sebuah buku lain tentang strategi Sun Tzu.Hari ini Olivia berulang tahun.Sengaja aku memberikan buku ini karena ingat kata-kata Olivia,”hidup adalah peperangan,maka hidup perlu sebuah strategi.”

Semalam saat jam 12 aku menuliskan SMS kepadanya sebuah ucapan selamat ulang tahun.Belum dibalas.Mungkin saat itu Olivia sedang menari.Atau mungkin saat ini Olivia sedang tidur setelah bekerja sampai dini hari.

Benar saja,Olivia masih tertidur.Ketika membukakan pintu nampaklah wajah Olivia yang masih alami.Begitu cantik,rambut yang mengembang natural,tatapan mata yang jernih dan bau badan tanpa sentuhan parfum.

“Sory..aku baru bangun”,kata Olivia.
“Nggak apa-apa….selamat ulang tahun”,jawabku sembari memberikan hadiah yang telah aku bungkus.
“Kamu baik…”,kata Olivia.
“Terkadang aku jahat…”,jawabku.
“Kamu pengertian…”,kata Olivia
“Terkadang aku sulit dimengerti..”,jawabku
“Kau berbeda dengan lelaki yang selama ini aku kenal”.
“Itu karena aku menyukaimu sepenuh hati”,jawabku.

Olivia tersenyum untuk kemudian tertawa berderai.Olivia mengulurkan tangannya,kami bergandengan tangan.
“Bolehkah aku bersandar di dadamu”.
“Hooh…”,jawabku pelan.

Semakin lama kami semakin mendekat.Nafas Olivia berdesir hangat di dadaku.Kuusap rambutnya pelan-pelan,rambut yang beroma melati.Dan semakin lama dengus nafas kami semakin cepat dan semakin tak beraturan.Jiwa kami melayang menuju langit antah berantah.
“Olivia,cinta ini takkan pernah aku lepaskan dari genggamanku,sampai kapan pun juga”,bisikku.
Olivia pun membisikkan kata-kata senada.Nafasnya menerpa wajahku.Masih sama,nafas yang harum seharum nafas bayi. 

Note:

Gambar milik Eurocrime 



Esha
Quote this article in websiteFavouritPrintSend to friendRelated articlesSave this to del.icio.us
This entry was posted on . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. This article was favoured 29 time. You can leave a comment. Tags: gadis, tato, kisah cinta, cerita pendek.
Views: 782    
Users' Comments (2)RSS feed comment
Posted by deden
19-11-2008 09:01,
 
http://bingungin.blogspot.com
wadaaawww ngiri aku eh 
 
salam, deden
 
» Report this comment to administrator
» Reply to this comment...
 
Posted by paluhlimbuy
17-11-2008 12:07,
 
www.paluhlimbuy.blogdetik.com
Nice story, asik utk diikutin. Salam kenal Yow!!!
 
» Report this comment to administrator
» Reply to this comment...
 

Comment an article
  Name
  Email
   URL
Available characters: 600
 Notify me of follow-up comments
This image contains a scrambled text, it is using a combination of colors, font size, background, angle in order to disallow computer to automate reading. You will have to reproduce it to post on my homepage
Enter what you see:



mXcomment 1.0.9 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev

Indonesia Joomla Topsites
Add to My Yahoo!
Add to Google
created by: Max
This is my Google PageRank™ - SmE Rank free service Powered by Scriptme

Author

tear-drop1.jpg
..............keasingan yang kian jauh wahai, telah kupintal semuanya. juga lagu-lagumu yang pahit tentang jendela-jendela di kota tua. kau mengintip sinar bulan menyerahkan bibir jambu itu seraya memintaku melukis kunang-kunang tapi aku digulung kelam, kekasih. rindu seolah cair terbawa matahari sedangkan cawan yang kau berikan pecah oleh nasib kemarilah, sebelum kereta itu tinggal lengking malam singgah di lengang-lengang. warung kecil tepi jalan dan ciumanku yang tak selesai. adalah kenangan yang merebut hari esok "kita hanya pejalan yang pasti tua pada saatnya!" pelangi mengabur. di ujung jalan itu airmatamu tak terjalin lagi; derai tapi di dinding kamar, lukisan cinta itu akan terus ada ( kutipan sajak Iyut Fitra dalam "SEBUAH KERETA YANG TAK PERNAH KAU KENAL")

Syndicate

Who's Online

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday209
mod_vvisit_counterYesterday213
mod_vvisit_counterThis week662
mod_vvisit_counterThis month662
mod_vvisit_counterAll28699