You are here >
Thu
11
Mar 2010
| Karena wasit menjadi perkara......... |
|
|
| Wednesday, 19 November 2008 21:46 | |||
Di Old Trafford hari itu,6 Januari 2005,barangkali akan selalu dikenang sebagai hari paling buruk dalam karir perwasitan Mark Clatenburg.Sebuah keputusan kontorversial telah dibuat Mark Clatenburg ketika memimpin pertandingan antara Manchester United melawan Tottenham Hotspur.Berawal dari tendangan spekulasi Pedro Mendez,pemain Tottenham Hotspur dari Portugal,ke arah gawang Manchester United.Tendangan dari jarak 55 m itu gagal diantisipasi dengan baik oleh Roy Carrol,penjaga gawang MU.Pemain depan Tottenham Hotspur yang berada di area kotak penalti MU yakin bola telah melewati garis gawang.Tayangan ulang di televisi memperlihatkan bola telah memasuki gawang sekitar 1 m.Namun dalam sepersekian detik berikutnya tangan Roy Carrol berhasil menepis bola itu keluar gawang.Dan momen itulah yang membuat kenangan buruk bagi Mark Clatenburg.Mark berada cukup jauh dari mulut gawang dan Mark melihat hakim garis tidak memberikan tanda apapun.Keputusan yang diambil Mark Clattenburg sangat jelas bahwa gol tidak terjadi.Tentu saja para pemain Tottenham Hotspur melakukan protes keras,namun wasit tak mengubah keputusan telah diambil.Pertandingan akhirnya berakhir dengan skor 0-0.
Wasit sebagai pemegang keputusan dalam pertandingan tak jarang melahirkan keputusan kontroversial.Pertandingan dalam tempo cepat dan penuh tekanan tak cukup membuat ruang bagi wasit untuk dapat berpikir jernih dan membuat keputusan akurat.Selalu ada tim-tim yang merasa dirugikan oleh keputusan wasit.Dalam Piala Dunia 2006 di Jerman,Graham Poll satu-satunya wasit asal Inggris di ajang itu,membuat sebuah kekeliruan ketika memimpin pertandingan antara Australia melawan Kroasia.Graham Poll lupa telah mengeluarkan 2 kartu kuning untuk Josip Simunic,pemain Kroasia.Seharusnya ketika menerima kartu kuning kedua,Josep Simunic semestinya keluar dari pertandingan.Graham Poll baru mengeluarkan Josip Simunic di menit-menit akhir pertandingan ketika kartu kuning ketiga diterima Josip Simunic. Masih dalam ajang Piala Dunia 2006,Luis Medina Cantalejo wasit asal Spanyol,membuat rakyat Australia menangis dan mengecam keputusan kontorversialnya.Dalam babak 16 besar Piala Dunia itu rakyat Australia menaruh harapan besar bahwa tim kesayangan mereka melangkah menuju babak 8 besar.Dan harapan itu nyaris terwujud,ketika sampai akhir pertandingan babak kedua kedudukan masih sama 0-0.Sampai suatu ketika pada menit 93 di masa injury time,Fabio Grosso,pemain Italia,menerobos sisi kiri pertahanan Australia.Perlu sedikit ketenangan dan sedikit trick ketika Fabio Grosso yang dibayang-banyangi pemain belakang Australia kemudian menjatuhkan diri.Dan hasilnya adalah wasit memberikan hadiah tendangan penalti untuk tim Italia.Tayangan ulang di televisi memperlihatkan gerakan Fabio Grosso berusaha mengaitkan kakinya ke kaki pemain belakang Australia untuk kemudian menjatuhkan diri.Diving Fabio Grosso dituntaskan tendangan penalti Fransesco Totti untuk mengubur harapan rakyat Australia. Kontroversialnya keputusan wasit dan kerugian sebuah tim akibat keputusan wasit,tidak serta merta membuat pemain dan offisial menghancurkan permainan itu sendiri.Dalam ketiga pertandingan di atas ,permainan tetap berakhir sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.Protes atas keputusan wasit tetap dilaksanakan melalui mekanisme yang ada.Namun protes dalam sebuah pertandingan juga bukan mengesahkan untuk bertindak kalap.Wasit dihargai sebagai pemegang keputusan dalam aturan sebuah permainan.Maka pertandingan tetap berjalan baik tanpa ada keributan yang berarti,apalagi mengarah kepada pemukulan ataupun perkelahian.Gesekan-gesekan kecil sepanjang pertandingan tak terhindarkan,namun tidak menjadikan para pemain baku hantam. Lain halnya dengan apa yang terjadi di negara kita.Menaruh kepercayaan dan penghargaan kepada wasit adalah sebuah hal langka.Setiap keputusan wasit yang dianggap merugikan sebuah tim selalu dipandang dengan sejumlah prasangka buruk.Lebih jauh lagi,keputusan wasit dianggap hasil dari kongkalikong dan sebuah konspirasi untuk menyingkirkan tim tertentu.Dengan cara pandang demikian sebenarnya akan selalu tersedia alasan untuk merubah lapangan bola menjadi ring tinju.Upaya pemukulan Yoyok Sukawi,mantan manager PSIS,terhadap wasit dalam pertandingan PSIS melawan PSMS berlatar belakang kekecewaan terhadap wasit.Pemukulan wasit oleh 3 pemain PSIR dalam pertandingan antara PSIR melawan Persibom pun demikian.Tak ada yang mampu untuk sedikit bersabar dan melakukan komplain dan pengaduan melalui saluran resmi kalau ada pihak yang dirugikan. Sekitar kita rasanya sudah terlalu penuh dengan peragaan kekerasan dan kerusuhan.Kerusuhan akibat Pilkada karena tidak percaya kepada hasil perhitungan akhir KPU.Kerusuhan akibat sweeping sebuah ormas karena tidak lagi percaya kepada penegak hukum.Kerusuhan pemain dan offisial sepakbola karena tak lagi percaya kepada wasit.Sedemikian paranoidnya kita sampai tak ada lagi di negara kita yang pantas untuk dipercayai.Mari kita tutup dulu buku pelajaran sekolah dasar.Tentang negeri jamrud khatulistiwa yang penduduknya ramah tamah,penuh toleransi dan lekat dengan budaya gotong royong.Karena pada dasarnya kita mempunyai syahwat besar terhadap kekerasan dan bergotong royong dalam kerusuhan.
|


Di Old Trafford hari itu,6 Januari 2005,barangkali akan selalu dikenang sebagai hari paling buruk dalam karir perwasitan Mark Clatenburg.Sebuah keputusan kontorversial telah dibuat Mark Clatenburg ketika memimpin pertandingan antara Manchester United melawan Tottenham Hotspur.Berawal dari tendangan spekulasi Pedro Mendez,pemain Tottenham Hotspur dari Portugal,ke arah gawang Manchester United.Tendangan dari jarak 55 m itu gagal diantisipasi dengan baik oleh Roy Carrol,penjaga gawang MU.Pemain depan Tottenham Hotspur yang berada di area kotak penalti MU yakin bola telah melewati garis gawang.Tayangan ulang di televisi memperlihatkan bola telah memasuki gawang sekitar 1 m.Namun dalam sepersekian detik berikutnya tangan Roy Carrol berhasil menepis bola itu keluar gawang.Dan momen itulah yang membuat kenangan buruk bagi Mark Clatenburg.Mark berada cukup jauh dari mulut gawang dan Mark melihat hakim garis tidak memberikan tanda apapun.Keputusan yang diambil Mark Clattenburg sangat jelas bahwa gol tidak terjadi.Tentu saja para pemain Tottenham Hotspur melakukan protes keras,namun wasit tak mengubah keputusan telah diambil.Pertandingan akhirnya berakhir dengan skor 0-0.
