You are here >
Thu
11
Mar 2010
| Terjerembab dalam lubang yang sama.... |
|
|
| Saturday, 02 May 2009 11:00 | |||
![]() Pesona perempuan itu,terkadang memang tidak terungkapkan dalam kata-kata.Tak cukup menyematkan kata "indah" untuk sebuah pesona perempuan.Ketika seorang laki-laki tergiur keindahan pesona perempuan,maka tak cukup logika untuk menjelaskannya.Ketertarikan tak perlu mengenal tempat,status dan keadaan.Maka mimpi Julia Roberts dalam "Pretty Woman" cukup mewakili sebuah penjelasan,bahwa pesona perempuan bisa lahir dalam diri perempuan manapun,tak terkecuali dalam diri seorang pelacur sekalipun.
Meski demikian,tetap saja timbul rasa penasaran,seperti apakah perempuan yang konon menjadi "pintu" keterkaitan Antasari Azhar dengan pembunuhan Nasrudin Zulkarnain,direktur PT Rajawali Putra Banjaran.Tanpa mengesampingkan rasa praduga tak bersalah,betapa kasus ini membuat banyak orang terperangah.Seolah mengulang apa yang terjadi pada Yahya Zaini dan Maria Eva beberapa waktu lalu,betapa pesona perempuan tak perlu menurutkan sebuah logika.Ketertarikan akan pesona perempuan tak lagi mempertimbangkan resiko.Maka seandainya pada suatu saat nanti,Antasari Azhar mesti berakhir karier politiknya,hal itu hanya membuktikan betapa banyak langkah laki-laki yang terjerembab dalam sebuah lubang yang sama.
Ternyata tak cukup sulit untuk menemukan gadis yang menghebohkan tadi.Gadis berumur 22 tahun itu bernama Rani Juliani.Seorang teman memberi kesaksian bahwa bahwa Rani Juliani masih berstatus sebagai mahasiswi sebuah perguruan tinggi informatika dan komputer di kawasan Cikokol,tak jauh dari Modern Land,tempat dimana gadis itu bekerja sebagai caddy di sana.Meski kemudian setelah kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnain mencuat ke permukaan dan namanya mulai disebut-sebut media,Rani Juliani tak lagi aktif di perkuliahan.Sama seperti teman yang kuliah di sana,Rani Juliani juga membuat blog yang merupakan bagian dari tugas kuliah pembuatan website.Maka blog yang berbasis blogspot ini tak nampak dikelola dengan serius.Blog ini hanya berisi visi STMIK Raharja,tempat di mana Rani Juliani kuliah,dan sebuah tulisan berjudul "Mengapa saya memilih Perguruan Tinggi Raharja",konten yang sama dengan website mahasiswa lain yang mendapatkan tugas serupa.Belakangan,setelah kasus Rani Juliani mencuat,banyak pengunjung yang datang untuk berkomentar atau malah hanya sekedar nampang dan mempromosikan websitenya. Kalau anda masih belum puas dengan hanya menemukan blognya,maka iseng-iseng nasukkan nama Rani Juliani pada kotak pencarian facebook.Maka facebook akan menampilkan sebuah wajah manis bernama Rani Juliani.Sayangnya,facebook memang tidak memberi kesempatan kita untuk mengetahui lebih jauh tentang profilnya tanpa yang bersangkutan memberikan ijin.Setidaknya,wajah dalam hasil pencarian facebook itu memang memiliki kemiripan dengan profil yang dipasang di blog Rani Juliani. Rani Juliani adalah potret kalangan bawah anak negeri ini yang mencoba eksis di tengah gempuran persaingan kerja yang tidak bersahabat.Penelusuran Radar Banten menyebutkan,bahwa Rani bekerja sebagai caddy di lapangan golf semenjak lulus sekolah menengah atas.Sama dengan kebanyakan pekerjaan di negeri ini,gaji sebagai caddy hanya berada dalam kisaran angka Rp. 700.000,- sebulan.Pendapatan lebih dari angka itu merupakan pendapatan esktra yang diperoleh dari mereka yang bermain golf.Dan dari sini pula Rani Juliani mengenal Nasrudin Zulkarnain yang menikahi secara siri pada tahun 2005.Ketika itu usia Rani belumlah mencapai 20 tahun.Karena Nasrudin Zulkarnain pulalah,Rani Juliani dapat mengenyam bangku perguruan tinggi. Barangkali dengan kekuasaan dan uang,pesona keindahan perempuan akan lebih gampang untuk diraih.Dan secara sadar perempuan sebagai pemilik pesona itu menikmati berada di pusaran kekuasaan dan uang.Meski berbeda skenario,perjalanan Rani Juliani nampak segaris dengan apa yang terjadi pada Manohara Pinot yang menghebohkan banyak milis baru-baru ini.Sebuah pesona gadis muda yang terseret dalam lingkaran orang-orang yang bergelimang uang dan kekuasaan.Cinderella telah menemukan pangerannya.Tak jadi soal meski itu merupakan pangeran tua.Dan ketika sang Cinderella terseret dengan persoalan yang barangkali di luar dugaannya,maka tersisakah simpati anda buatnya...?.Barangkali hidup memang jauh lebih pragmatis dan tak perlu dijalani dengan berkerut kening.
|



