You are here >
Wed 10 Mar 2010
Mbah kakung dan utang.... Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Wednesday, 17 June 2009 21:25
NDalem Kartotinayan,tempat dimana mBah kakung saya memegang tampuk kekuasaan,benar-benar dikelola secara bersahaja.Tak nampak segala kemewahan apalagi menghambur-hamburkan uang.Kalau Barack Obama masih berpikir bagaimana memberikan dana stimulus agar perekonomian negeri Paman Sam sana bergairah,maka mBah Kakung saya boro-boro memberikan stimulus.Berpikir agar anggaran rumah tangga bisa berjalan "on schedule" dan "on time" saja sudah membuat pening kepala.

Seperti juga di bulan Juni.Ketika hari sudah merangkak ke ujung bulan ,segala macam kreasi dan kreatifitas dikerahkan untuk penghematan dan menambah penghasilan.Dan mBokdhe Tulkiyem sebagai staff dapur tahu benar akan hal itu.Sebagai staff dapur yang dipercaya menerjemahkan kebijaksanaan keuangan nDalem Kartotinayan maka segala kreasi dikembangkan.Ketika kreatifitas mBokdhe Tulkiyem tumbuh dengan segala improvisasinya di tanggal yang semakin tua ini,maka meja hidangan akan semakin jarang terlihat daging ataupun telur.Inilah saat dimana nDalem Kartotinayan berubah menjadi vegetarian.Saatnya tahu dan tempe menjadi hidangan utama dan menduduki tempat terhormat.

Seperti juga pada hari ini di saat senja meredup,mBah Kakung menikmati teh panas dengan tahu bacem dan cabe di tangan.Tahu yang nampak kecoklatan dengan lelehan gula dan bumbu yang sporadis membuat penampilan tahu begitu kumel dan tak menampakkan estetika masakan modern.Mendadak Pakdhe Tukiman,tukang sayur legendaris di komplek ini,muncul.Tak biasanya Pakdhe Tukiman datang di sore hari.Dan tak biasanya Pakdhe Tukiman datang bertamu dengan pakaian rapi.
"Pak Sepuh...bolehnya makan tahu bacem kok nikmat bener..,kayaknya enak nggih...?",Pak Tukiman bicara begitu sambil jakunnya turun naik menelan ludah.
"Mau man....",sahut Mbah kakung sembari menyodorkan sepiring tahu dihadapannya ,"Lha wong Tulkiyem kalau membuat tahu bacem nikmat betul,manisnya dan bumbunyan terasa".
"Walah.....lha inggih je Pak...ternyata nikmat betul tahu bacemnya".Dan Pakdhe Tukiman menikmati betul tahu bacem sore itu.Meski sesekali mulutnya ber"hoha-hoha" karena pedasnya cabet rawit.

"Pak Sepuh....",demikian Pakdhe Tukiman memulai omongan seriusnya.Rupanya pakaian yang rapi dan kedatangan yang tidak biasa mempunyai kehendak tertentu."Sebenarnya.....eeeee.....",Pakdhe Tukiman terbata-bata ucapannya.
"Apa to Man....kamu kayak orang mau pinjam duit aja.....ngomong muter-muter",sahut mBah kakung.
"Eeeeee....sebenarnya saya memang mau pinjam uang,Pak Sepuh",sahut Pakdhe Tukiman pelan.Mbah Kakung terhenyak."Trembelane Tukiman",batin mBah Kakung.We..lha....damainya nDalem Kartotinayan membuat praduga yang salah tentang rumah ini.Dikiranya pengaruh krisis global tidak berpengaruh terhadap rumah ini.

Tentu saja,sebagai pemimpin tertinggi nDalem kartotinayan,mBah Kakung tak perlu rasanya bercerita tentang tanggal yang semakin tua dan menggerogoti anggaran rumah tangga.Atau juga bercerita tentang penghematan luar biasa di rumah ini.Tak perlu itu,gengsi dong...Dan mBah Kakung memberi nasihat yang rasanya tak bijaksana bagi seseorang yang memang sedang membutuhkan biaya.Apalagi untuk keperluan yang sebenarnya tidak masuk kategori kebutuhan primer.

"Pak Sepuh itu gimana to....,namanya juga anak polah bapa kepradhah....demi permintaan anak...",Pakdhe Tukiman menanggapi dengan sengit."Lha wong negara aja berhutang....coba Pak Sepuh pikir....ndak tahunya duit BLT itu hasil dari hutang pak".
Mbah kakung terkekeh mendengar penuturan Pakdhe Tukiman."Dengkulmu itu Man.....lha wong dari pinjam duit kok malah nyinggung-nyinggung negara".

"Kalau bahasa pejabat itu kok serba canggih nggih Pak...",Pakdhe Tukiman mulai kumat nyinyirnya."Bilangnya bantuan untuk rakyat kecil ndak tahunya kok bolehnya ngutang.We lha...malah dalam kampanye dibangga-banggakan sebagai keberhasilan program pro rakyat".
"Tapi kan sudah dijelaskan Man,bahwa duit BLT dari pengurangan subsidi BBM",jawab mBah kakung.
"Mosok Pak....tapi kok katanya negera kita masuk 4 besar penghutang terbanyak".Wah..Pakdhe Tukiman sudah masuk dalam jaring penggalangan opini yang bertubi-tubi ditayangkan di media.
"Pak Sepuh...apa kalau negara pinjam duit itu bilangnya ndak pakai malu-malu kayak saya tadi yak...",tanya Pakdhe Tukiman.
"Embuh Man,"mBah Kakung nampak enggan sudah untuk berargumentasi.

Tiba-tiba terdengar sedikit kegaduhan di dalam rumah.Mbokdhe Tulkiyem membawa cucu kesayangan Mbah Kakung,Dhenok mata bola yang rambutnya kriwil-kriwil,ke hadapan mBah Kakung."Pak Sepuh,ini lho si Dhenok ndak mau makan..bosen katanya tiap hari makan tahu tempe".Mbah Kakung hanya terpana.Jauh setelah Bung Karno begitu menggebu-gebu agar kita jangan menjadi bangsa tempe,ternyata generasi mBah Kakung pun tidak menyukai tempe.
"Pesen Hokben Mbah....beli Haagen Dasz...",Denok mata bola yang rambutnya kriwil-kriwil merajuk.Mbah Kakung hanya menghela nafas.Setengah melirik Pakdhe Tukiman,Mbah Kakung berucap,"Ayo Man ikut saya...!".
"Kemana Pak Sepuh...?",tanya Pakdhe Tukiman.
Sambil bergegas mBah Kakung berucap,"Cari utangan duit".

Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.