You are here >
Fri 12 Mar 2010
Mbah kakung dan tukang tambal ban.... Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Saturday, 06 June 2009 03:39
Sesungguhnya,suasana nDalem Kartotinayan pagi ini amatlah tentramnya.Stabilitas ekonomi sangat terkendali,lha wong masih tanggal muda.Stabilitas politik pun demikian adanya.Tak ada isu-isu negatif yang sekiranya mengganggu kelancaran mBah Kakung saya menjalankan roda pemerintahan di nDalem Kartotinayan.


Namun hiruk pikuk justru terjadi di luar nDalem Kartotinayan.Di tengah mBah Kakung saya menjalani ritual paginya,dengan secangkir kopi dan duduk ongkang-ongkang di kursi kebesarannya,mendadak terjadi kehebohan di depan rumah.Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Pakdhe Tukiman,tukang sayur legendaris idola ibu-ibu dan para pembantu komplek ini.

Tak seperti biasanya,pagi itu Pakdhe Tukiman "nganeh-nganehi".Di sisi kiri gerobak sayurnya,secara demonstartif Pakdhe Tukiman memasanga tulisan.Tulisan yang tak terlampau bagus-bagus amat sebenarnya.Maklum saja,Pakdhe Tukiman tak lulus sekolah rakyat yang waktu itu masih menggunakan sabak sebagai media tulisnya.Meski dengan komposisi tulisan yang tak terlampau sedap dipandang mata,namun sebenarnya tulisan itu amatlah jelas,"Tukang sayur internasional".Dan bukan Pakdhe Tukiman namanya,kalau tidak bisa membantah dan berargumen dari cercaan Ibu-ibu pelanggannya.Dengan bibir tebalnya,Pakdhe Tukiman selalu mampu menangkis setiap perkataan dari pelanggannya hingga menimbulkan tawa yang berderai-derai.

"Kamu ndak mabuk to Man,habis ciu berapa botol kok tiba-tiba gerobak sayurmu dipasangi papan nama segala?",sapa mBah kakung,mengetahui Pakdhe Tukiman sudah duduk "ndlosor" dan leyeh-leyeh di teras nDalem Kartotinayan.
Sambil "pringisan" Pakdhe Tukiman menjawab,sesekali topi dikibas-kibaskan ke badannya sekedar menghilangkan keringat yang membasahi tubuh",Meningkatkan value Pak Sepuh...".
We lhadalah..........MBah kakung saya tertawa "nggleges",nemu dari mana Tukiman kata value ini,batin mBah Kakung.
"Value itu apa to Man..?",tanya mBah Kakung saya.
"Itu lho pak sepuh,biar ada nilai tambah,menambah gengsi.Sekarang kan lagi musim penambahan kata Internasional,sekolah internasional,rumah sakit internasional.Makanya gerobak sayur saya juga ditambahi kata internasional",sahut Pakdhe Tukiman,dengan intonasi suara datar tak berdosa.
"Ealah Man...lha wong kamu jualannya cuma seputar komplek ini saja kok".

Bak seorang pengamat Pakdhe Tukiman bicara panjang lebar.Bahwa masyarakat kita sedang gandrung dengan label kata internasional.Bahwa ada sekolah yang tadinya sekolah biasa,di kemudian hari ditambahkan kata internasional dan akibatnya uang bayaran sekolah menjadi naik.Atau rumah sakit yang belakangan banyak berdiri dengan label internasional,yang pada pada ujungnya juga bertarif mahal juga.Soal apakah dengan penambahan label internasional nantinya pelayanan atau mutu nya meningkat,itu menjadi soal lain.

Mbah Kakung saya sedikit takjub juga mendengar analisis drop out-an sekolah rakyat van mBantul ini.Kalau saja ada embel PHD dibelakang nama Tukiman,barangkali Pakdhe Tukiman sudah cas cis cus menghiasi layar televisi,"Lha terus..harga sayuranmu mau dinaikkan,apa pelangganmu ndak akan lari to Man.."
Pakdhe Tukiman hanya terdiam.Lama tidak menjawab,"Kalau wong cilik seperti saya mau kerja curang dikit aja kok gak bisa ya Pak sepuh...?Harga naik 50 perak saja nantinya pelanggan saya pasti lari".

Bukan ketularan para politisi kalau Pakdhe Tukiman menggunakan terminologi wong cilik,lha wong Pakdhe Tukiman memang benar-benar wong wong cilik.Cilik badannya,cilik tenaganya."Kalau rumah sakit itu kok cara kerjanya niru tukang tambal ban ya Pak sepuh",lanjut Pakdhe Tukiman.Tak menunggu jawaban dari mBah Kakung,Pakdhe Tukiman melanjutkan,"Kalau tukang tambal ban,bolong satu dibilangnya dua,biar tambah gede bayarannya.Kalau rumah sakit,pasien ndak opname disuruh opname biar bayarnya tambah.Pasien ndak harus operasi di bilangnya mesti operasi biar pendapatan rumah sakit meningkat.Yang gawat lagi kalau pasien dibikin awet sakitnya,bentar-bentar berobat-berobat,kan jadi pasien abadi pak".
 
We lha...Pakdhe Tukiman semakin menjadi-jadi.Syndrom Ibu Prita dan RS OMNI sampai juga kepada Pakdhe Tukiman."Gawat",batin mBah Kakung.Pakdhe Tukiman sudah tendensius dan berpikir negatif.Nanti kalau tukang tambal ban dan dokter tidak terima dengan pernyataan Pakdhe Tukiman bisa gawat.Ndalem Kartotinayan yang awalnya damai bisa terseret kekisruhan pencemaran nama baik profesi.Belum sempat  mBah kakung berbicara,tiba-tiba cucu kesayangan mBah kakung,Dhenok mata bola yang rambutnya kriwil-kriwil,pulang dari sekolah."Wah...pakdhe Tukiman nggaya...gerobak sayurnya pakai nama segala..kayak toko aja...".
"Biar keren nduk",jawab Pakdhe Tukiman.Kedatangan Dhenok Mata bola yang rambutnya kriwil-kriwil mengingatkan Pakdhe Tukiman bahwa waktu telah menjelang siang.Pakdhe Tukiman pun berpamitan.

Tinggalah mBah Kakung sendiri.Kata-kata Pakdhe Tukiman mengingatkan mBah Kakung pada mBah Putri di kala sakit.Entahlah mana rumah sakit yang bagus dan mana rumah sakit yang kurang bagus.Sebagai pensiunan pegawai negeri golongan III,maka rumah sakit bagi Mbah kakung tidaklah tersedia banyak.Askes adalah salah satu andalan untuk berobat.Namun Askes menjadi tumpul,ketika berhadapan dengan harga obat yang mahal.Pasien Askes juga bukan masuk prioritas utama dalam hal pelayanan.Puncaknya adalah ketika mBah Putri harus opname di rumah sakit.Yang sangat disesalkan adalah kesehatan mBah Putri memburuk pada hari Minggu,hari ke 5 mBah Putri di rawat.Mbah Kakung tidak tega melihat darah terus mengucur di mulut mBah Putri.Tidak ada yang bisa dimintai pertolongan.Dokter-dokter libur pada hari Minggu.Sementara para perawat jaga hanya berpandang-pandangan tanda kebingungan.Dalam perasaan panik,mBah Kakung hanya bisa pasrah menyaksikan deru nafas mBah Putri perlahan-lahan melemah dan kemudian hilang sama sekali.

Tak terasa mata mBah Kakung membasah.Mbah Kakung melangkah menuju pembaringan istirahat siangnya.Barangkali,Iwan Fals boleh berbangga,sudah lebih dari 1 dekade Iwan Fals menyanyikan lagu "Ambulance Zigzag" dan "Setangkai kembang Pete",namun rasanya lagu itu masih relevan sampai kini.Mbah Kakung pun ingin berdendang...Kalau diantara kita jatuh sakit,sebaiknya tak usah ke dokter.Sebab ongkos dokter disini..terkait di awan tinggi.....

Ilustrasi diambil dari sini

Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.