You are here >
Thu 11 Mar 2010
Namaku Dono................... Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Thursday, 14 February 2008 20:59

Malam mengurung diri dengan muram.Januari yang basah dengan gerimis hujan yang cukup untuk membuat kuyup.Sesekali terdengan petir menyalak.Kota yang biasanya penuh hiruk pikuk, malam itu nampak lengang menyisakan segelintir orang.Waktu berjalan begitu lambat seolah enggan beranjak.

Sudah lebih setengah jam Dono berada di persimpangan jalan itu menunggu penumpang.Dono menguap berkali-kali.Badannya setengah meringkuk di belakang kemudi taxinya.Matanya nanar menatap gerimis yang tak kunjung berhenti.Batinnya mengutuk keras,gerimis telah mengurangi kesempatannya memperoleh penghasilan lebih.Setengah malas dibukanya sedikit kaca taxinya,diraihnya sebatang rokok.Ini kali kedua Dono menyalakan rokoknya.

“Ke jalan Anggrek, bang….?”,tiba-tiba menyembul kepala laki-laki dari kaca mobil yang sedikit terbuka.

“Ayo…”,kata Dono sambil tersenyum.Senyum yang barangkali hambar dan sedikit dipaksakan.Entah kenapa Dono menjadi kehilangan senyum yang lepas.Senyumnya seolah hilang ditelan kejenuhan menunggu datangnya penumpang.

Laki-laki itu masuk ke dalam taxi dan menghempaskan tubuhnya dengan kasar.Mobil sedikit terguncang.Dono mengintip dari kaca spion,laki-laki yang besar dengan rona wajah bersih.Laki-laki itu bersandar sambil memejamkan tangannya dengan kedua tangannya bersilang di dada.

“Hai,nama kita ternyata sama”,kata laki-laki itu memecah kesunyian. Suaranya yang berat sedikit mengagetkan ditengah suasana yang hening.Barangkali laki-laki memperhatikan kartu pengenal yang tergantung di dashboard.

“Namaku Dono……Herdono”,laki-laki itu melanjutkan.Hembusan nafas laki-laki itu terasa kasar menyambar tengkuk Dono.

“Sejak kapan kau menjadi pengemudi taksi?”,laki-laki itu bertanya.“Bagaimana kau mencukupi kebutuhan hidupmu dengan menjadi pengemudi taksi”,laki-laki itu terus saja bicara dan nampaknya tidak memerlukan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkannya.

Harga diri Dono sedikit terusik mendengar pernyataan laki-laki itu yang bernada merendahkan.Memang belakangan ini pendapatannya semakin tidak menentu.Sementara itu harga – harga kebutuhan sehari-hari terus saja merangkak naik tidak memperdulikan sulitnya mencari penghasilan.Dono memutuskan untuk berdiam diri dan membiarkan laki-laki itu bicara.Sesekali saja Dono berusaha tersenyum dan tertawa kecil.Tak perlu rasanya menceritakan siapa dirinya.Tak perlu rasanya bercerita bahwa ijasah S1 nya hanya dihargai beberapa lembar ratusan ribu yang kemudian memaksanya beralih profesi menjadi pengemudi taksi.Laki-laki itu pasti hanya akan semakin merendahkannya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Kau mesti belajar bergaul”,laki-laki itu melanjutkan kata-katanya.”Seperti aku ini”,laki – laki menepuk dadanya.”Pergaulanku membuat aku dipercaya dalam sebuah kelompok,dan karena pengaruhku dalam kelompok inilah yang membuatku dipercaya untuk menduduki jabatan penting.Dengan jabatan penting yang ku pegang,maka banyak orang membutuhkanku,itu artinya uang akan datang dengan sendirinya,”laki-laki itu bicara dengan nada bangga setinggi langit.

“Korupsi…..?”,Dono menyela diantara suaranya yang tercekat karena perasaan gondok.

“Hahahaa….”,laki-laki itu tertawa terbahak-bahak,hembusan nafasnya terasa kasar menyambar tengkuk Dono.”Kau jangan sinis begitu,sifat sinis itulah yang membuatmu jauh dari rezeki.Itu bukan korupsi,itu adalah penghasilan sampingan”.

“Penyalahgunaan wewenang….?”,Dono menyela lagi dengan nada sebal.

“Hahahahaa……”,laki-laki itu tertawa terbahak-bahak sampai tubuhnya terguncang-guncang.”Itulah kalau kau terlampau sering membaca koran.Membaca koran tidak membuatmu kenyang.Tapi sudahlah,kau tidak akan mengerti.Kau terlampau naïf menjalani hidup”.

Dono tidak lagi menyahut.Pikirannya asyik bermain – main dengan bayangan sendiri.Hidup memang terserah bagaimana seseorang mewarnainya.Barangkali dirinya terlampau naïf menjalani hidup.Barangkali juga dirinya terlampau bodoh menyiasati keadaan.

“Stop….aku berhenti di sini saja……”,laki-laki itu kembali memperdengarkan suaranya yang mengagetkan.Sedikit tersentak Dono menginjak rem sehingga taxi mengeluarkan suara berdecit.Laki-laki itu mengeluarkan dompetnya dan memberikan  2 lembaran uang ratusan ribu.Dono melirik angka yang tertera di argo.Belum sempat Dono mengeluarkan kata-katanya,laki-laki itu menepuk pundaknya,”Ingat ya…?Bukan korupsi,itu penghasilan sampingan,hahahahaha……”,laki-laki itu tertawa terbahak-bahak.Nafasnya menyambar kasar di tengkuk Dono,namun kali ini terasa dingin dan mendirikan bulu kuduk.

Di lain hari Dono secara tak sengaja kembali bertemu dengan laki-laki yang menyebalkan itu.Sebenarnya Dono ingin sekali menghindar,namun mengingat besarnya ongkos yang diterimanya Dono berharap hari ini pun ada sedikit rejeki lebih untuknya.

Kali ini laki-laki itu bersama seorang perempuan.Setelah laki-laki itu mengantarkan perempuan itu ke sebuah taxi,laki-laki itu menuju ke taxi Dono.Barangkali laki-laki itu tidak menyadari bahwa taxi yang ditujunya adalah taxi yang sama yang pernaih dinaikinya.Setelah menyandarkan tubuhnya dan menyilangkan ke dua tangan di dada,laki-laki mengeluarkan suara menggelegar dengan nafas yang terasa kasar menyambar tengkuk Dono,”Aha….kita bertemu lagi.Masih ingat kepadaku….?Namaku Dono…Herdono”.

Dono menoleh sebentar untuk sekedar mengangguk.Sekedar berbasa-basi agar laki-laki itu tidak tersinggung.

“Berapa umurmu……..?”,laki-laki itu bertanya masih dengan kedua tanganya bersilang di depan dada.

“40 tahun……”,untuk sejenak Dono menyesal memberikan jawaban,pastilah laki-laki itu akan mengeluarkan pernyataan-pernyataan mengejek sambil tertawa terbahak-bahak seperti yang dilakukannya beberapa waktu lalu.

“Ah…kau nampak jauh lebih tua dari usiamu…..”,dengus laki-laki itu.

Dono tersenyum kecut,sebuah perkataan yang sebenarnya sudah dia duga sebelumnya.

“Lihatlah aku…..aku jauh kelihatan lebih muda,meskipun usia kita sama.Itu terjadi karena hidupku penuh warna”.

“Kau lihat perempuan tadi…..,kau pasti berpikir bahwa aku suka main dengan pelacur.Tidak …..perempuan tadi adalah tokoh berpengaruh di kelompokku.Aku perlu membuat sedikit pendekatan agar karierku tetap mulus meskipun itu dengan jalan menemaninya tidur…hahahahaha”.laki-laki itu tertawa terkekeh.

“Menghalalkan segala cara…..”,desis Dono lirih.

“Hai..dari mana kau dapat kata-kata itu?Segala cara mesti diraih kalau hidupmu ingin berubah.Untuk meraih bintang tidak hanya dengan cara berdoa…..hahahahaha”,laki-laki itu makin terdengar keras tertawanya.

Dan ketika laki-laki itu memberikan ongkos yang lagi-lagi melebihi angka yang tertera di argo,laki-laki itu kembali menepuk pundak Dono,”Janganlah kau berjalan terlampau lurus….Seperti yang pernah aku bilang dahulu,apa yang aku lakukan bukanlah korupsi tetapi penghasilan sampingan….jalan yang aku tempuh bukanlah menghalakan segala cara tetapi kreaitiftas dalam hidup…hahahahahaha”.

Dono hanya diam terpekur.Baginya ongkos berlebih yang diterimanya cukuplah tanpa merasa perlu untuk meladeni omongan laki-laki itu.

Hari itu Dono sedikit pulang lebih cepat dari biasanya.Uang yang didapat hari ini sudah lebih dari penghasilan biasanya.Di perjalanan Dono singgah sebentar untuk mebelikan oleh-oleh bagi kedua anakanya,hal yang sebenarnya sudah terlalu lama tidak dilakukanya.Dan hari itu juga nampak benar kegembiraan ada di rumah kontrakan Dono.

“Pak..banyak benar pendapatan hari ini..?,”Tanya istrinya berseri-seri.

“Yah..namanya juga lagi ada rejeki bu…..”.jawab Dono

Tiba-tiba kedua anaknya berlarian dari arah dapur sambil menenteng oleh-oleh yang tadi dibelinya.

“Pak…..ini mahal ya pak….?”.

Dono tersenyum,diraihnya kedua anaknya dan diciumnya secara bergantian,”Sekali-kali bapak belikan oleh-oleh mahal”.

Setelah kedua anak-anaknya bermain di luar rumah,Dono merebahkan badannya.Dinyalakanya televisi.Layar televisi menampilkan acara ceramah agama.Dono merasa tak asing dengan laki-laki di layar televisi itu.Aha….itu laki-laki yang baru saja menumpang taxinya.Dono tak asing lagi dengan suaranya yang menggelegar,namun kali ini dengan intonasi yang sedikit lain.

“Bapak suka juga dengan ceramahnya….?”,tiba-tiba istrinya menghampiri sembari membawakan secangkir kopi panas.”Namanya Dono….. Herdono,banyak yang suka dengan ceramahnya”.

Dono menggeleng lemah.Dengan perasaan sebal dipindahkanya saluran teve ke acara berita.Lagi-lagi nampak laki- laki itu di layar televisi.Dengan suara mengelegar menjawab pertanyaan wartawan seputar isu kenaikan BBM.

“Herdono anggota parlemen,dia wakil rakyat”,istinya kembali menerangkan.Nampaknya istrinya jauh lebih mengenal laki-laki itu.

Dono mendengus kesal.Kembali Dono memindah saluran televisi,namun kembali laki-laki itu yang nampak di layar kaca.Agaknya laki-laki itu sedang menjadi pusat perhatian kalangan wartawan.

“Dia juga seorang pengamat ekonomi………dosen universitas terkenal….”,lagi-lagi istrinya menerangkan.Tiba-tiba Dono merasa kepalanya menjadi pusing dan berat.Dengan gontai Dono melangkah ke kamar tidur.Pandanganya nanar dan berputar-putar.Direbahkannya badannya ke ranjang.Di langit-langit kamar dilihatnya bayangan wajah laki-laki itu datang silih berganti menertawakan dirinya.

Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.